Tradisi Halal bi Halal sebagai ekspresi budaya saling memaafkan di moment Idul Fitri

Post-Ramadan Syndrome

Distraksi tidak hilang. Tapi kalah dominan. Tanpa sadar, kita sedang berada dalam ekosistem yang mendukung iman. Kita merasa kuat. Padahal, kita sedang ditopang. Lalu Ramadan pergi. Dan sistem itu ikut hilang.

Kita kembali ke dunia yang sama. Rutinitas yang sama. Tekanan yang sama. Distraksi yang mungkin lebih bising dari sebelumnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi kita berharap diri kita tetap seperti di bulan Ramadan. Di sinilah ketegangan itu muncul. Kita ingin hasil yang sama. Tanpa sistem yang sama. Kita ingin tetap tinggi. Tanpa fondasi yang menopang. Dan akhirnya, kita jatuh: pelan, tapi pasti. Ini bukan sekadar penurunan iman. Ini adalah kembalinya kita ke “default mode”.

Seharusnya Dilanjutkan

Ramadan sering kita anggap sebagai puncak. Sebagai garis finish. Padahal, mungkin ia lebih tepat disebut sebagai simulasi.

Simulasi kehidupan ideal seorang muslim. Di sana, kita bangun lebih pagi. Kita lebih sadar dengan waktu. Kita lebih hati-hati dengan kata. Kita lebih dekat dengan Tuhan.

Pertanyaannya sederhana. Kalau itu versi terbaik kita, kenapa tidak kita lanjutkan?

Jawabannya jujur: karena mungkin kita tidak pernah merancang cara untuk melanjutkannya. Kita menikmati Ramadan. Tapi tidak menyiapkan kehidupan setelahnya.

Kita terlalu lama percaya bahwa perubahan itu soal niat. Padahal, niat hanya awal. Yang menjaga adalah sistem.

Mungkin kita perlu mengubah cara pandang. Bukan lagi berpikir, “bagaimana mempertahankan semua yang kita lakukan di Ramadan?”

Tapi, “apa versi paling kecil dari Ramadan yang bisa saya jaga sepanjang tahun?”

Bukan satu juz sehari. Mungkin satu atau dua halaman yang konsisten. Bukan tarawih atau qiyamullail yang panjang. Mungkin dua rakaat di malam hari yang tidak pernah putus. Bukan sedekah yang besar. Mungkin kebaikan kecil yang terus mengalir. Kita tidak butuh kesempurnaan. Kita butuh keberlanjutan.

Lingkaran yang Menjaga

Selain itu, kita perlu jujur pada satu hal penting: iman itu tidak kuat sendirian. Ia butuh lingkungan.

Tinggalkan Balasan