Tahun ini menjadi tahun ke-14 aku menjalankan puasa ramadan di pondok. Dengan pondok yang berbeda-beda, selalu memberikan kesan dan pengalaman yang menyenangkan. Meski, terkadang masih terbesit keinginan untuk pulang.
Suasana pondok menjadi sangat berbeda ketika bulan Ramadan Tiba. Seperti ada seruan hangat bagi para santri untuk berlomba-lomba meningkatkan ibadah di bulan suci. Semua schedule kegiatannya juga tidak lagi sama seperti hari biasa. Mulai dari jam 3 pagi sampai jam 10 malam, hampir berubah total.

Di Pondok Putri Pesantren Tebuireng, kegiatan ngaji kitab menjadi lebih dominan di bulan Ramadan. Kegiatan ngaji kitab bandongan dilaksanakan di empat waktu, yakni bakda subuh, bakda dhuhur, bakda asar, dan bakda tarawih yang dibagi dalam dua majelis.

Di Pesantren Tebuireng, seluruh santri di semua unit juga tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah selama Ramadan. Meski terdapat sedikit perubahan waktu, yakni hanya berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 11 siang. Setelah itu santri akan pulang dan mengikuti kegiatan di pondok.
Berbeda dengan santri yang masih sekolah, kegiatanku sebagai mahasiswa tidak sepadat mereka. Utamanya dari waktu pagi sampai siang. Kebetulan selama bulan Ramadan jadwal kuliah diliburkan, waktu yang bisa aku manfaatkan untuk mengerjakan tugas, nderes Qur’an, atau tidur yang katanya turut menjadi ibadah.
Ramadan yang dikenal dengan bulan Al-Qur’an juga menjadi semangat dan motivasi para santri untuk berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an. Di Pondok Putri Pesantren Tebuireng, santri memiliki jadwal tadarus Al-Qur’an bakda maghrib. Meski, juga terlihat beberapa santri yang tidak lepas dari membaca mushafnya di selain jadwal tersebut untuk menuntaskan target khhatam.
Target khatam Al-Qur’an tersebut juga masuk dalam wishlist rencanaku selama Ramadan, bahkan sebelum perpulangan pondok. Karena kalau di rumah akan sangat sulit fokus untuk khatam.
Salah satu ulama yang menjadi teladan dalam mencintai Al-Qu’an yakni KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah. Di tengah kesibukan bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, Pengasuh ke-7 Pondok Pesantren Tebuireng ini istikamah membaca Al-Qur’an satu juz bakda subuh di setiap harinya.
Masjid Ulil Albab (MU) yang merupakan masjid ikon Pondok Putri Pesantren Tebuireng selalu terlihat penuh dengan shaf jamaah di setiap salat lima waktu. Sesuatu yang menegaskan bahwa padatnya kegiatan tidak membuat santri lengah untuk menunaikan salat berjamaah.
Bukan hanya dalam aspek kegiatan, bahkan menu makanan jasa boga (jabo) santripun ikut menjadi lebih spesial di bulan Ramadan. Ada tambahan takjil yang berbeda-beda di setiap hari untuk menu buka puasa.
Jabo merupakan unit yang mengelola kebutuhan makan santri secara massal di pesantren. Sebagaimana arahan KH Salahuddin Wahid kala itu, jabo harus menetapkan standar gizi agar makanan yang diberikan kepada santri tidak hanya sehat dan bergizi, tetapi juga lezat.
Pada April 2025, Jasa Boga Pesantren Tebuireng berhasil mendapatkan sertifikat halal. Hal ini menunjukan bahwa menu makanan Jabo Pesantren Tebuireng tidak hanya bergizi dan lezat, tetapi juga dijamin kehalalannya.
Pada bulan Ramadaan, beberapa menu yang tidak pernah tampak di hari-hari biasa pun muncul di jadwal menu jabo saat sahur atau berbuka. Ayam katsu, misalnya. Hal inilah yang menjadi salah satu semangat santri saat berpuasa. Dengan jadwal menu yang telah ditetapkan, tak jarang aku dan teman-teman menunggu untuk segera bertemu dengan jadwal menu favorit saat sahur atau berbuka.
Suasana Pondok Putri Pesantren Tebuireng setelah ngaji bandongan kitab bakda asar sekitar jam 16.30 menjadi sangat ramai, terlebih di area pengambilan jabo. Dengan modal kartu makan jabo, para santri berbaris rapi menunggu antrian untuk mengambil menu buka puasa.
Meski, dengan kegiatan yang lebih padat dari hari biasanya, dan antrean mengambil makanan di jabo yang menjadi lebih ramai dan lebih panjang di bulan Ramadan. Para santri terlihat antusias dan sangat bersemangat menikmati seluruh momen Ramadan di pondok.
Begitupun aku, tahun ini menjadi tahun keduaku bisa menjalankan puasa Ramadan di Pondok Putri Pesantren Tebuireng. Pengalaman yang sangat mengesankan. Apakah tahun depan juga sama? Semoga saja.
