Angka sakral 8 berarti bulan kemerdekaan, yaitu Agustus. Mbah Moen menyatakan bahwa bahwa pada bulan tersebut Nur Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ‘Alaihy wa Sallam berpindah dari ayahnya Abdullah ke Ibundanya Siti Aminah. Pada saat itu bertepatan dengan bulan Rajab.
Relevansi lainnya yaitu anggota sujud yang ditunjukkan dengan angka 8. Menurut KH Maimoen Zubair ke-8 anggota tubuh dalam sujud itu adalah: dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, jari-jari kak kedua kaki yang menghadap kiblat, dan hati. Di sini Mbah Moen juga meyebutkan hati sebagai perangkat dalam bersujud. Hal tersebut dikarenakan hatilah yang utama, sebab percuma saja meringkuh dan merendah jika hati masih congkak dan sombong.

Kesakralan lainnya yaitu angka 8 menunjukkan pintu surga Allah. Terdapat pintu al-Rayyan bagi orang yang berpuasa, al-Shadaqah bagi orang yang bersedekah, al-Salat bagi orang yang rajin salat wajib dan sunah secara disiplin, al-Jihad bagi orang yang jihad dengan ikhlas di jalan Allah, al-Dzikr bagi orang yang ahli zikir, al-Ayman bagi orang-orang yang masuk surganya Allah tanpa hisab, al-Kaadziminal Ghaidz untuk orang yang bisa mengendalikan amarah, Babul Walid bagi orang yang berbakti kepada orang tuanya.
Angka Sakral 45
Angka terakhir proklamasi kemerdekaan adalah angka 45. Angka tersebut menurut KH Maimoen Zubair adalah bilangan banyaknya umat Islam membaca syahadat sehari semalam. Klasifikasi 45 tersebut yaitu 4 kali di waktu malam hari, yaitu salat Maghrib dan Isya tepatnya pada tasyahud awal dan akhirnya. Sementara untuk siangnya 5 kali dalam membaca kalimat syahadat yang dimulai dari salat Subuh. Ketika salat Subuh membaca syahadat hanya dilakukan pada tasyahud akhir. Selanjutnya salat Dhuhur dan Asar, membaca kedua kalimat syahadatnya ketika tasyahud awal dan akhir.
