Replik terhadap Framing Tradisi Pesantren

Kisah lain, suatu ketika Harun Ar-Rasyid, tokoh pemimpin pada dinasti Abbasiyah, pernah memarahi Al-Ashmai tatkala sang guru tidak suka kakinya dicucikan oleh anak khalifah. Tentu seorang khalifah besar saat itu tak mungkin tak punya dasar yang kuat, ataupun menganggap hal ini bentuk feodalisme yang menyimpang. (Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’aliim, 28. Dar as-Sudaniyyah Lil kutub)

Dalam suatu riwayat lain disebutkan, Muhammad bin Hamdun bin Rustam berkata: “Saya mendengar Muslim bin Hajjaj (penulis Sahih Muslim) berkata kepada Imam Bukhori” : “Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru dari para guru, pemimpin para ahli hadis, dan dokter pakar hadits dalam mengetahui cacatnya”. (Adz-Dzahabi, Siyar a’lam an-nubala, 12/432)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diriwayatkan oleh Idris bin Abdul Karim, ringkasnya: ketika Salamah bin Idris datang ke majelisnya Khalaf, Khalaf mempersilakannya duduk di tempat terhormat, tetapi Salamah menolak dan berkata: “Aku tidak akan duduk kecuali di bawahmu, karena ini adalah hak dalam menuntut ilmu”. (Khotib al-Baghdadi, Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rowi Wa Adab as-Sami’, 1/198).

Imam Syafi’i pun menguatkan dalam persoalan ini. Imam Syafi’i pernah berkata:

إن المعلم والطبيب كلاهما # لا ينصحان إذا هما لم يكرما

فاصبر لدائك إن أهنت طبيبه # واصبر لجهلك إن جفوت معلما

Artinya: “Seorang guru dan dokter, keduanya insan mulia. Takkan memberi nasihat jika tak dihargai. Bersabarlah atas sakitmu bila kau hina sang dokter. Dan bersabarlah atas bodohmu bila kau hina sang guru.”

Dari uraian tersebut, diperoleh gambaran bahwa tradisi penghormatan kepada guru seperti yang telah dipraktikkan di pesantren selama ini, juga dilakukan para ulama terdahulu dan memiliki dasar yang kuat.

Tinggalkan Balasan