Sajadah Daun Kelor

“Di tempat biasanya, di depan kantor MA,” jawab Adi sambil celingak-celinguk.

“Oh, di tempat biasa,” gumam saya kepada entah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Cari sana, cari sini, Adi tidak menemukan wadah untuk menaruh sayur kelor itu setelah dirontokkan dari tangkainya (dalam bahasa Madura, eporot). Akhirnya sajadah untuk salat pun dijadikan wadah. Setelah dirontokkan dan dimasukkan, sajadah tersebut dilipat. Sekilas seperti tidak ada sayur kelor di dalamnya. Kemudian, karena belum mau dimasak, sayur kelor di dalam sajadah itu diletakkan begitu saja di beranda pondok.

Setelah beberapa lama (sekitar satu atau satu setengah jam berikutnya), salat jamaah zuhur dilaksanakan. Bel penanda salat jamaah terdengar dari serambi masjid dekat pondok. Buru-buru kami bergegas menuju masjid. Tidak terkecuali Adi, teman sepondok saya itu. Dengan tergesa-gesa ia menyambar sajadah yang di dalamnya ada sayur kelor. Ia lupa, atau tidak sadar, bahwa ia menaruh sayur, yang dalam bahasa latin disebut moringa oleifera, itu di dalamnya. Sesampainya di masjid dihamparlah sajadah. Tentu Anda tahu apa yang terjadi?

Tinggalkan Balasan