Di antara sekian banyak santri itu, daun kelor itu bertebaran dari sajadah Adi. Tentu ia telihat pias. Malu setengah mati. Namun, Adi termasuk orang yang agak urakan juga. Sambil nyengir ia jumputi lagi sayur kelor yang berhamburan itu.
“Kalau tidak, bisa jadi tak makan sayur nanti,” ucapnya sambil memunguti serpihan sayur kelor. Teman-teman santri lainnya hanya bisa menahan gelak tawa melihat kejadian itu.

“Makanya, Di, kalau mau masak sayur jangan di masjid,” celetuk seorang santri yang entah siapa.
Terpaksa si Adi jadi makmum masbuk. Ia harus menyimpan dulu sayur kelor yang terbawa ke masjid. Meski demikian, Adi tetap semangat (khusyu) ikut salat. Dalam hati (mungkin), ia bergumam, “Setelah salat, aku akan masak sayur dan makan besar.”
