Malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan menjadi malam-malam yang penuh harapan dan penantian. Malam dimana banyak orang berbondong-bondong berburu Lailatul Qadar dengan meramaikan masjid untuk i’tikaf, salat malam, dan memperbanyak ibadah lainnya.
Beberapa hari yang lalu, memasuki tanggal 21 Ramadan, teman saya meng-update status WhatsApp (WA) dengan foto kue serabi. Ya, di Madura, ada tradisi unik menyambut malam-malam ganjil di 10 terakhir bulan Ramadan. Selain dengan berloma-lomba memperbanyak ibadah, masyarakat Madura juga membuat kue serabi untuk dibagikan kepada para tetangga atau keluarga.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan Serabi Likuran, yaitu pembuatan kue serabi yang secara khusus dilakukan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Pelaksanaannya tidak ditentukan pada tanggal tertentu, melainkan dapat dilakukan pada malam-malam ganjil mana pun dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.
Kue serabi diolah dari bahan-bahan yang terdiri dari tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan wajan kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang. Orang Jawa memandang kue ini sebagai bentuk doa untuk memperoleh pengampunan dan pengayoman.
Lalu apa hubungannya kue serabi dengan malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan? Menurut salah satu kiai kampung, Mohammad Hafiduddin, tradisi membuat kue serabi dan membagikannya kepada orang sekitar di malam ganjil 10 hari terakhir di bulan Ramadan sebagai bentuk peringatan kepada umat Islam bahwa Ramadan akan segera berakhir. Sebab tidak ada dalil khusus, hanya sebagai tradisi turun temurun yang terus dilestarikan.
Menurutnya, kue serabi ini menjadi ikonik yang cukup sakral. Sebab, sejak zaman dahulu kue ini sudah disajikan untuk bahan sesajian dalam selamat ruwah atau arwah orang yang sudah meninggal.
Namun, hemat penulis, istilah Serabi Likuran pada malam-malam ganjil ini lebih kepada sebutan bagi tradisi turun-temurun dalam menyambut malam-malam ganjil dengan bersedekah. Sebab, pada praktiknya, tidak semua orang membuat serabi. Sebagian masyarakat juga menyiapkan hidangan lain seperti plotan dan kolak pisang.
