Imam al-Bukhari, misalnya, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk bertemu para perawi dan memperoleh hadis. Begitu pula banyak ulama lainnya. Mereka tidak hidup dalam zaman ketika satu kitab dapat dicari melalui mesin pencari, sebuah hadis dapat ditemukan dalam hitungan detik, atau kajian seorang ulama dapat diputar ulang kapan saja.
Pada masa itu, mencari ilmu adalah sebuah perjalanan. Mereka mendatangi guru. Mereka rela menempuh jarak yang panjang hanya untuk mendengar sebuah hadis atau memperoleh pengetahuan dari orang yang mereka percaya.

Sedangkan hari ini, guru dapat hadir melalui layar. Ribuan kitab dapat berada dalam satu genggaman. Hadis yang dahulu harus dicari melalui perjalanan panjang, sekarang dapat ditemukan hanya dengan beberapa ketukan jari pada layar. Kajian yang dahulu mengharuskan seseorang duduk di depan majlis, kini dapat didengarkan dari kamar, kendaraan, bahkan sambil melakukan aktivitas harian.
Tentunya ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Namun, kemudahan ini juga membuat cara kita belajar agama perlahan berubah. Jika dahulu kita harus mendatangi guru untuk mendapatkan ilmu, sekarang kita cukup dengan hanya membuka layar untuk mendengar dari begitu banyak orang yang berbicara tentang agama.
