Persoalannya kemudian bukan lagi tentang sulitnya menemukan ilmu. Melainkan tentang siapa yang kita jadikan sumber ilmu. Di medi sosial, seseorang dapat berbicara tentang agama tanpa harus lebih dahulu kita ketahui latar belakang keilmuannya. Ukuran yang tampak di hadapan kita sering kali bukan kedalaman ilmu. Melainkan jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau seberapa menarik cara ia menyampaikan.
Padahal, banyaknya orang yang mendengar tidak selalu menunjukan dalamnya ilmu seseorang. Begitu pula kemampuan berbicara dengan baik tidak selalu menunjukan keluasan pengetahuan. Dalam persoalan agama, cara seseorang memperoleh ilmu dan bagaimana ia memahami sumber-sumber agama tentu menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan.

Masalahnya, media sosial tidak selalu memperhatikan hal tersebut. Kita hanya melihat potongan ceramah, beberapa menit penjelasan, atau satu kesimpulan yang sudah selesai. Kita tidak melihat proses panjang yang melatarbelakanginya.
Di sinilah pelajaran agama melalui media sosial membutuhkan kehati-hatian. Kita tidak cukup hanya bertanya apa yang disampaikan, tetapi juga siapa yang menyampaikannya dan dari mana pengetahuan itu berasal.
