Fenomena tersebut juga merambah dunia pendidikan. Banyak lembaga pendidikan lebih fokus mencetak lulusan yang kompetitif secara ekonomi daripada membangun kesadaran kritis peserta didik. Nilai akademik dijadikan ukuran utama keberhasilan, sementara keberanian berpikir sering dianggap mengganggu stabilitas. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan generasi yang patuh terhadap sistem, tetapi lemah dalam membaca ketimpangan sosial dan krisis kemanusiaan di sekitarnya.
Pemikir Brasil, Paulo Freire, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pendidikan yang menindas kesadaran manusia. Peserta didik hanya dijadikan objek penerima informasi, bukan subjek yang aktif berpikir. Dalam model pendidikan semacam itu, manusia kehilangan kemampuan mempertanyakan realitas dan hanya dilatih menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.

Spirit historis Arafah sebenarnya menghadirkan kritik terhadap kondisi tersebut. Wukuf di Arafah memperlihatkan bahwa manusia, sebesar apa pun status sosial dan kekuasaannya, tetap berada dalam posisi yang sama di hadapan Tuhan. Semua atribut duniawi runtuh. Tidak ada perbedaan kelas sosial, jabatan, maupun kekayaan. Momentum itu mengajarkan kerendahan hati sekaligus kesadaran bahwa manusia harus terus melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
Dalam perspektif tafsir sosial, Arafah dapat dipahami sebagai simbol pembangkitan kesadaran kritis manusia. Kesadaran bahwa hidup tidak boleh dijalani secara mekanis tanpa refleksi. Kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari keuntungan ekonomi, tetapi sarana memahami realitas dan membangun tanggung jawab kemanusiaan. Karena itu, runtuhnya budaya berpikir di dunia modern sebenarnya menunjukkan krisis yang lebih besar: manusia kehilangan kemampuan memaknai hidupnya sendiri.
Pemikir Muslim progresif, Nasr Hamid Abu Zayd, pernah mengingatkan bahwa teks agama akan kehilangan daya transformasinya ketika hanya dipahami secara literal tanpa pembacaan kritis terhadap konteks sosial. Kritik tersebut relevan dalam melihat fenomena keberagamaan modern hari ini. Ritual dijalankan secara rutin, tetapi tidak selalu melahirkan perubahan kesadaran. Agama sering diperingati secara simbolik, sementara nilai refleksi dan tradisi berpikir justru semakin melemah.
