Besok, jejaring duniasantri (JDS) akan menggelar rangkaian kegiatan Festival Dunia Santri 2026 di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta. Acara yang berlangsung dua hari ini, Kamis dan Jumat (9-10/7/2026), juga akan dihadiri tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang.
Rangkaian kegiatan akan dibuka pada Kamis, 9 Juli 2026, melalui Workshop Jurnalistik dan Penulisan Kreatif yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB. Sejak pagi, para santri, mahasiswa, guru, dan pegiat literasi akan belajar bersama para pegiat literasi seperti Mukhlisin, Beni Satria, dan Aguk Irawan.

Para narasumber akan berbagi pengalaman mengenai dunia jurnalistik, teknik menulis cerpen, hingga proses kreatif melahirkan puisi. Workshop ini diharapkan menjadi ruang belajar yang melahirkan penulis-penulis muda dari lingkungan pesantren dan masyarakat luas, sekaligus memperkuat tradisi literasi yang selama ini menjadi salah satu denyut kehidupan pesantren.
Pada Jumat, 10 Juli 2026, festival berlanjut dengan Diskusi Buku Menggali Api Pancasila: Catatan dari Anjangsana Kebangsaan karya Ngatawi Al-Zasteouw. Diskusi akan berlangsung mulai pukul 13.00–15.30 WIB. Forum ini menghadirkan Pengasuh Pesantren Minggir KH Ahmad Muwafiq, Dr Surahno, Prof. Dr. Agus Moh. Najib, Dr Ngatawi Al-Zastrow, Dr. Irene Camelyn Sinaga, AP., M.Pd., dan Dr. M. Imdadun Rahmat, M.Si.
Diskusi Buku akan mengajak peserta membaca kembali Pancasila bukan sekadar sebagai teks, melainkan sebagai pengalaman hidup yang tumbuh dari perjumpaan antarmanusia, keberagaman budaya, dan tradisi gotong royong yang menjadi fondasi Indonesia.
Di hari yang sama, Jumat, 10 Juli 2026, pukul 18.30–22.30 WIB, akan digelar Malam Sastra Santri dengan rangkaian acara pembacaan puisi, refleksi sastra, musik, dan dialog budaya. Acara ini dihadiri sastrawan-sastrawan kondang, seperti Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Mustafa W. Hasyim, Joni Ariadinata, Nissa Rengganis, Evi Idawati, Kedung Darma Romansha, Rekki Zakkia, Beni Satria, dan Mutia Sukma. Juga ada Gus Muwafiq, Aguk Irawan, dan Irene Camelyn Sinaga.
Dalam satu panggung, para penyair, sastrawan, budayawan, dan tokoh pesantren akan menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar karya estetis, melainkan cara merawat ingatan, menyemai nilai-nilai kemanusiaan, dan menjaga denyut kebudayaan bangsa.
