TADARUS BAU KASTURI

AKU, PUASA, IBU

biarkan puasa menyiksaku lagi,
menuntut dan menuntunku, untuk saleh kembali

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

sebulan penuh
pura-pura membaca sejarah,
memahami sahabat dan Nabi
;pamrih agar catatan baik ditulis malaikat setiap hari.

biarkan mulut merapal doa lebih keras
membelah langit malam
sekeras palu menikam batu

sementara,
wajah Ibu di kampung
semakin kerut dilumat waktu

sedang anaknya
menantang maut di perantauan,
bekerja mati-matian
sekadar hidup di negeri orang.

ramadan datang,
menyikasanya berulang-ulang
lima kali dalam lima tahun, ditambah tahun ini: menjadi enam.

semakin khusuk saja
wajahku memandang langitMu

“Biarkan aku hidup satu tahun lagi. Agar bertemu ramadan tahun depan, dan bisa memeluk Ibu terakhir kali.”

ucapku, tiba-tiba.

Yogyakarta, 2026.

PERJUMPAAN SAKRAL

Ada perjumpaan sakral
antara diriku dengan Tuhan

di malam yang larut
sementara waktu
menuntut diriku
lebih saleh lagi.

barangkali
ajalku sudah dekat
sebab bau tanah di badanku
semakin menyengat.

belum lagi
dosa-dosaku
kian hari kian menumpuk

sedang kalbu,
memesan Lailatul Qadar lebih dulu.

hingga subuh berkumandang,
dan pagi mulai menggeliat di jendela.

perjumpaan itu
berakhir tenteram
:maut tiba-tiba datang.

Yogyakarta, 2026.

MENGUTUK DIRI SENDIRI

di warung,
dengan terpal menutup
setengah badan.

aku belajar munafik
dari orang-orang
yang menyantap dosa di bulan Ramadan.

di pinggir jalan,
dengan takjil berhamparan.

aku belajar iri dan dengki, dari orang-orang yang menjajakan takjil sore hari, sementara hatinya berdoa, dagangan di sampingnya tidak laku: walau sebiji.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan