Setiap lembaga pendidikan selalu mencoba memberikan teknik pengajaran yang efektif untuk para muridnya, supaya pembelajaran yang disampaikan dapat dengan mudah dicerna dan diingat.
Seiring berjalannya waktu, para ilmuwan mulai menemukan beberapa tips yang efektif untuk meningkatkan performa dalam belajar. Mulai dari personalized learning, spaced repetition, hingga dialogic teaching—semua diklaim sebagai temuan mutakhir di abad ke-21.

Namun, tahukah kita bahwa jauh sebelum laboratorium-laboratorium modern di Barat meneliti efektivitas metode belajar, pondok pesantren di Nusantara sudah lebih dulu mempraktikkan teknik-teknik tersebut?
Selama berabad-abad, pesantren telah mengembangkan sistem pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan kemandirian santri. Berikut adalah 5 teknik belajar modern yang ternyata sudah menjadi budaya pesantren sejak dulu.
Pertama, Sorogan (Personalized Learning). Sorogan berasal dari kata bahasa Jawa, sorog, yang berarti “menyodorkan”.
Metode ini adalah sistem di mana seorang santri menyodorkan kitabnya di hadapan kiai atau ustaz untuk dibaca dan dipelajari secara langsung, satu per satu secara bergiliran. Kiai benar-benar mengetahui kualitas, kemampuan, dan kelemahan setiap santri secara individu. Santri tidak boleh melanjutkan ke pelajaran berikutnya jika belum benar-benar menguasai pelajaran sebelumnya.
Dalam dunia modern, teknik ini dikenal dengan istilah Personalized Learning atau pembelajaran personal. Definisi ilmiahnya adalah pendekatan yang berpusat pada peserta didik (learner-centered) dengan menyesuaikan pengajaran terhadap kebutuhan, tujuan, kemampuan, motivasi, dan minat masing-masing individu.
Dalam praktiknya, metode ini sering disebut juga sebagai individualized instruction (pengajaran individual) atau adaptive learning (pembelajaran adaptif)—di mana guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan perhatian penuh pada satu siswa dalam satu waktu.
Kedua, Bandongan/Wetonan (Lecture-Based Learning). Bandongan (atau wetonan) adalah metode di mana seorang kiai membacakan, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulas kitab-kitab Islam klasik di depan banyak santri sekaligus—bisa antara 5 hingga 500 orang. Para santri menyimak, memperhatikan kitab masing-masing, dan membuat catatan berupa arti kata maupun keterangan tentang bagian yang sulit. Kelompok santri dalam sistem ini disebut halaqah—lingkaran belajar di bawah bimbingan seorang kiai.
Metode ini setara dengan Lecture-Based Learning (LBL) atau pembelajaran berbasis ceramah. LBL adalah metode pengajaran di mana instruktur menyajikan informasi kepada peserta didik dalam format terstruktur, dengan instruktur sebagai sumber utama informasi, sementara peserta didik mendengarkan, mencatat, dan berpartisipasi dalam tingkat yang bervariasi.
Meskipun sering dianggap “kuno” oleh sebagian pendidik modern, metode ini tetap menjadi tulang punggung perkuliahan di universitas-universitas terbaik dunia karena efisiensinya dalam menyampaikan materi kepada banyak orang sekaligus.
Sistem kuliah umum atau seminar yang kita kenal sekarang nyaris identik dengan sistem bandongan—satu ahli menerangkan, banyak murid menyimak dan mencatat.
Ketiga, Hafalan dan Lalaran (Spaced Repetition & Retrieval). Hafalan dan Lalaran adalah tradisi turun-temurun di pesantren. Materi yang dihafal tidak hanya Al-Qur’an, tetapi juga hadis, mahfuzhat (kata-kata hikmah berbahasa Arab), nadham (syair-syair ilmu), dan berbagai matan kitab klasik.
Yang menarik, santri tidak hanya menghafal sekali, tetapi terus-menerus mengulang (muraja’ah) hafalannya secara rutin—setiap hari, setiap pekan, atau setiap kali hendak melanjutkan hafalan baru. Mereka juga menyetorkan hafalan di hadapan kiai tanpa melihat teks (setoran). Inilah yang membuat hafalan santri kuat dan melekat hingga tua.
Dalam ilmu kognitif, metode ini dikenal dengan dua istilah sekaligus. Yang pertama, Spaced Repetition (pengulangan berjarak): Strategi belajar di mana paparan terhadap informasi disebar secara temporal (diberi jeda waktu) untuk meningkatkan hafalan jangka panjang. Belajar dengan jeda waktu jauh lebih efektif daripada belajar sekaligus dalam satu waktu (massed practice). Istilah lain yang sering dipakai adalah spaced practice atau distributed practice.
Kemudian, Retrieval Practice (latihan mengingat). Ini berarti praktik mengingat kembali informasi dari ingatan, bukan sekadar membaca ulang. Ketika santri “menyetorkan” hafalan, ia sedang memaksa otak untuk mengingat informasi tanpa melihat teks—dan ini adalah salah satu cara paling efektif untuk memperkuat memori serta melatih peningkatan fungsi otak.
Keempat, Syawir/Bahtsul Masail (Discussion-Based Learning). Musyawarah atau syawir adalah kegiatan diskusi kelompok di pesantren. Santri dibagi dalam kelompok kecil (biasanya 6-7 orang) untuk membaca kitab, menerjemahkan, lalu saling bertanya dan menjawab dengan mengacu pada referensi.
Ada juga istilah bahtsul masail (diskusi ilmiah)—di mana setiap peserta didorong untuk memiliki landasan ilmiah dalam berpendapat, bukan sekadar asumsi untuk menyelesaiakan suatu permasalahan.
Ini adalah implementasi dari Discussion-Based Learning (DBL) atau pembelajaran berbasis diskusi. DBL adalah bentuk active learning (pembelajaran aktif) dan metode pengajaran konstruktivis di mana terjadi pertukaran berbagai interpretasi, penjelasan, pendekatan terhadap masalah, atau solusi yang mungkin, yang kemudian dievaluasi bersama. DBL mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi perspektif beragam, menyelidiki asumsi, dan mengalami pembelajaran kolaboratif. Istilah lain yang terkait adalah collaborative learning (pembelajaran kolaboratif) dan problem-based learning (PBL).
Kelima, Pembatasan HP & Gadget (Digital Detox Environment& Distraction-Free Learning). Di pesantren, santri umumnya tidak diperkenankan membawa atau menggunakan smartphone selama di lingkungan pesantren. Semua bentuk komunikasi dengan keluarga diatur melalui jalur khusus. Kebijakan ini bukan sekadar aturan main-main, melainkan bagian dari sistem pendidikan yang telah teruji. Tujuannya jelas: menjaga fokus belajar santri, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan mengurangi gangguan digital. Santri menjadi lebih hadir secara fisik dan mental dalam setiap kegiatan—baik saat mengaji, berdiskusi, maupun beribadah bersama.
Dalam dunia pendidikan modern, kebijakan ini dikenal dengan istilah Digital Detox Environment (Lingkungan Detoks Digital) dan Distraction-Free Learning Environment (Lingkungan Belajar Bebas Distraksi). Saat ini, sekolah-sekolah di berbagai negara mulai menerapkan kebijakan Phone-Free School atau melarang HP di lingkungan sekolah sebagai upaya mengatasi menurunnya konsentrasi dan meningkatnya kecanduan gadget di kalangan siswa.
Yang membedakan, program detoks digital modern biasanya bersifat sementara dan reaktif —membatasi waktu layar setelah kecanduan terjadi, atau mengadakan kamp khusus selama beberapa hari. Pendekatan ini mengobati gejala, bukan membentuk kebiasaan dari awal.
Pesantren mengambil pendekatan yang berbeda: lingkungan tanpa gadget sudah menjadi bagian dari sistem sejak hari pertama santri masuk. Anak tumbuh dalam lingkungan di mana interaksi langsung, ibadah bersama, dan kegiatan nyata mengisi setiap sudut hari. Salat berjamaah lima waktu, tahsin Al-Qur’an, diskusi kitab kuning, dan berbagai kegiatan lainnya mengisi waktu santri dari subuh hingga malam. Tidak ada ruang kosong yang menganga—karena yang menggantikan layar adalah kehidupan yang nyata dan bermakna.
Menariknya, metode-metode yang sudah berabad-abad dipraktikkan di pesantren ini ternyata memiliki kesejajaran dengan teori-teori belajar modern yang telah teruji secara ilmiah di laboratorium-laboratorium psikologi dan pendidikan. Personalized learning, lecture-based learning, spaced repetition, retrieval practice, discussion-based learning, dan dialogic learning—semua istilah ini adalah bukti bahwa pesantren telah mendahului zamannya dalam merancang sistem pembelajaran yang efektif.
Wallahu a’lam bish-shawab.
