Dulu kita sekamar bercerita tentang umat
kini, menata hidup sendiri saja kita sekarat
Kita perlahan dihinggapi rayap kota menggerogoti
mimpi-mimpi santri yang mulai membusuk dan lembab
Hingga pada titik bosan yang mahadahsyatnya
saat ketimpangan ada di depan mata
kita tak bisa berbuat apa-apa
(yang paling parah)
kita tak mau berbuat apa-apa
Duduk di kedai kopi di dunia luar bersamamu saat itu,
menunggu petang tiba-tiba
membutatuli nurani
seperti biasa, sedari dulu
kita telah menjadi penonton yang patuh.
