Dan setelah saya hitung, karena buku ini tidak ada daftar isinya, ternyata mengandung sebelas poin. Poin pertama membahas dasarnya Thariqatul Ulama. Dalam pembahasan ini beliau mengutip tiga ayat serta dua bait syair dari kitab al-Adzkiya’. Salah satu dasarnya adalah firman Q. S. (Al-Fatir: 28)
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ

Artinya: “Hanya saja yang paling takut kepada Allah dari hamba-hambanya ialah para ulama.”
Poin kedua adalah Ihda, persembahan dari buku ini. Dalam poin ini beliau menjelaskan bahwa buku ini dipersembahkan kepada para ulama. Di antaranya, pembesar ulama syariat dan tarekat di Indonesia.
Pembahasan keempat berbicara soal etika seorang murid ketika ingin memasuki tarekat. Disebutkan bahwa seorang murid harus punya niat yang tulus dan ikhlas, lalu melaksanakan salat istikharah dua rakaat. Kemudian di rakaat pertama membaca surah al-Kafirun. Sementara di rakaat kedua membaca surah al-Ikhlash. Terakhir ditutup dengan membaca doa salat istikharah, dilanjutkan dengan menundukkan kepala seraya menunggu ilham dari Allah. Lalu menggerakkan hati nurani, jika hati belum bergerak, diulangi lagi sampai tiga kali.
Kemudian di poin kelima dari buku ini, dijelaskan tata cara menerima baiat dari sang mursyid (istilah guru dalam dunia tasawuf). Sementara di pembahasan kelima, beliau menjelaskan tata cara menerima talkinan zikir dari mursyidnya.
Setelah itu, di poin keenam dan ketujuh beliau menjelaskan syarat menjadi murid dan syarat menjadi mursyid. Misalnya, seorang murid diharuskan mengetahui ilmu syariat (ilmu fikih). Sekurang-kurangnya, ia mampu memahami kitab Ghayah at-Taqrib. Sementara bagi mursyid, salah satu syaratnya adalah harus paham ilmu fikih serta mengamalkannya. Dan menimal ia harus menguasai kitab Fath al-Qarib.
Baru di poin kelapan, beliau menjelaskan macam-macam zikir dalam tarekat. Menurut beliau, zikir dalam Thariqatul Ulama terbagi menjadi empat bagian. Pertama, zikir Anfas, yakni zikir yang mengikuti keluar masuknya napas, menahan napas, kemudian dikeluarkan dengan berangsur-angsur. Kedua, zikir murur. Zikir ini juga terdiri dari dua bagian, yaitu kalimat La Ilaha Illa Allah (zikir Nafi dan Itsbat) dan zikir Itsbat, yaitu lafaz Allah.
