Virus Bernama Nirakhlak

Arab Badui itu pun mendatangi sahabat Bilal bin Rabah dan menanyakan hal yang sama. Bilal pun tak kuasa membendung air matanya. Beliau menangis dan memerintahkan Arab Badui itu untuk menemui Ali bin Abi Thalib. Arab Badui itu heran, mengapa kedua sahabat senior Rasulullah itu bersikap demikian.

Berikutnya, Arab Badui menemui Ali bin Abi Thalib, dan mengatakan, “Ceritakan kepadaku, bagaimana keindahan akhlak Rasulullah?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mendengar pertanyaan tersebut, Ali bin Abi Thalib pun tidak kuat membendung air mata. Di antara isak tangis yang menyayat hati, Ali berkata kepada Arab Badui, “Coba ceritakan olehmu bagaimana keindahan dunia?”

Arab Badui itu menjawab, “Bagaimana mungkin aku menceritakan keindahan dunia yang tak terbatas ini?” Ali bin Abi Thalib pun menjawab, “Begitulah, padahal dunia ini sangat kecil menurut al-Quran, sedangkan akhlak Rasulullah begitu agung.”

Begitulah sebagian akhlak Rasulullah yang menjadikan nilai Islam begitu agung. Diterima oleh seluruh manusia karena pembawa risalah ini memiliki akhlak yang mulia, yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Innaka la’ala khuluqin adhim, (sesungguhnya Engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung (mulia)).”

Virus nirakhlak telah menjangkiti kebanyakan manusia saat ini. Sengkarut perbedaan pandangan melahirkan penghinaan, caci-maki, dan saling mencela. Akhlak yang telah diajarkan melalui ungkapan dan tingkah laku Rasulullah seakan telah sirna dari benak kita masing-masing. Virus nirakhlak itu telah merasuk ke dalam jiwa kita. Sehingga kita apatis terhadap logika kebenaran dan abai terhadap keberadaan etika.

Sudah waktunya kita kembaluli kepada kemuliaan akhlak. Membangun kembali nilai-nilai etika yang bercerai-berai. Tidak boleh terjadi saling menghina, saling mencaci, dan saling menciderai jiwa kita masing-masing. Kita adalah satu kesatuan (ummatan wahidah) yang harus tetap bersama dalam keberagaman, dan beragam dalam kebersamaan. Wallahu A’lam! 

Tinggalkan Balasan