Mungkin dari tubuh semacam itulah sejarah bisa dibicarakan dengan lebih manusiawi: bukan sebagai deretan tanggal, pidato, atau slogan, melainkan sesuatu yang pernah terjadi kepada tubuh manusia.
Lalu saya bertanya, jika tubuh telah lelah, mimpi mengacaukan batas kenyataan dan ingatan, Macbeth membawa kita kepada ambisi dan kekuasaan, sementara biografi para aktor membuka pintu agama dan keluarga, ke mana semua ini akan bermuara?

Jawabannya datang melalui sebuah lagu yang hampir semua orang Indonesia mengenalnya: Bagimu Negeri.
Lagu itu mula-mula tidak datang sebagai seruan. Ia keluar pelan-pelan dari suara aktor Jepang. Sebuah lagu yang bagi telinga orang Indonesia barangkali terlalu akrab, didengar sejak sekolah, dalam upacara, peringatan kemerdekaan, atau acara resmi yang membuat kita berdiri tegak meskipun pikiran sedang memikirkan hal lain.
Tetapi malam itu, ketika lagu tersebut keluar dari mulut seorang aktor Jepang, keakrabannya bergeser. Saya seperti mendengarnya untuk pertama kali. Ada jarak antara kata-kata dan tubuh yang mengucapkannya. Lagu itu memang milik bangsa Indonesia, tetapi ketika dinyanyikan oleh orang Jepang, ia seperti dikembalikan kepada kita dalam bentuk pertanyaan: apa arti “negeri” bagi seseorang yang bukan berasal dari negeri itu? Dan lebih jauh lagi, apa arti menjadi Indonesia?
Menarik. Ya, ketika seorang aktor Jepang menggumamkan Bagimu Negeri, pertanyaan itu seperti dikembalikan kepada penonton Indonesia. Agak lucu juga. Kadang-kadang kita baru mengenali rumah sendiri setelah mendengar orang lain menyebut alamatnya.
Ketika aktor Indonesia kemudian mempertanyakan lagu itu, suasananya menjadi semakin menarik. Lagu yang biasanya dinyanyikan dengan dada tegak kini hadir bersama keraguan. Setelah tubuh yang diperintah, kelelahan, mimpi dan paranoia, Macbeth, agama, serta biografi personal, nasionalisme tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang sederhana, melainkan sebagai pertanyaan.
Apakah mencintai negeri berarti harus mencintai seluruh sejarahnya? Kalau sejarahnya memiliki luka, apakah kita juga harus mencintai lukanya? Kalau leluhur pernah melakukan kesalahan, apakah kesalahan itu menjadi bagian dari identitas kita? Dan kalau kita malu terhadap sesuatu yang dilakukan bangsa kita pada masa lalu, apakah rasa malu itu juga bentuk cinta?
Saya tidak tahu. Mereka menyanyikan Bagimu Negeri bersama-sama dengan lirih. Mungkin justru karena lirih itulah lagu tersebut terasa lebih dekat: negeri tidak lagi terdengar sebagai sesuatu yang berada jauh di atas kepala, tetapi sesuatu yang harus kita bicarakan dari jarak sangat dekat, seperti keluarga, agama, orang mati yang masih kita doakan, atau sejarah yang tak pernah benar-benar selesai.
Meski setelah semua itu saya masih merasa perlu kembali kepada satu hal yang sejak awal mengganggu pikiran saya: agama. Bukan sebagai keberatan, apalagi vonis terhadap pertunjukan, melainkan sebagai kemungkinan yang terlalu nakal untuk saya simpan sendiri.
Saya masih memikirkan ketika para aktor memperkenalkan diri dan berbicara tentang keyakinan masing-masing. Yuko dengan Buddha dan leluhurnya. Andhini dengan perjalanan spiritualnya. Shoichi dengan pengalaman religius keluarganya. Para aktor Indonesia dengan latar mereka masing-masing.
Untuk beberapa saat, panggung seperti menjadi ruang kecil tempat berbagai keyakinan duduk berdampingan. Apa yang terjadi ketika tubuh-tubuh dengan warisan keyakinan berbeda berada dalam ruang yang sama? Apakah mereka saling mengubah, saling mencurigai, saling menyembuhkan, atau justru tidak terjadi apa-apa?
Bukankah, dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang berbeda agama sering hidup berdampingan tanpa harus setiap hari mengadakan seminar tentang pluralism? Tetangga sebelah mungkin sedang berdoa sementara kita membuat kopi; teman pergi ke gereja, kita ke masjid, lalu sore harinya tetap bertemu membicarakan harga cabai atau pertandingan sepak bola. Kehidupan kadang lebih sederhana daripada teori pluralisme. Mungkin toleransi memang tidak selalu perlu diucapkan; cukup dijalani.
Namun pertunjukan sudah membuka pintu itu, dan saya ingin mengintip sedikit lebih jauh. Apa arti hidup bersama ketika masing-masing membawa leluhur, Tuhan, pengalaman, dan luka yang berbeda?
Yuko membawa leluhurnya, Andhini membawa perjalanan spiritualnya, Ridho membawa doa dan pengalaman bersama anak-anak didiknya, Sarah membawa ke-Tionghoaannya, Raymond dengan ke-Ambonannya, sementara Shoichi membawa sejarah keluarganya. Mereka berdiri di panggung Indonesia, membawa pengalaman masing-masing ke dalam ruang yang sama.
Di sana saya kembali teringat pada Rashōmon. Bukan gerbangnya kali ini, melainkan gagasan sederhananya: setiap orang membawa versinya sendiri tentang dunia, dan versi itu lahir dari tubuh, ingatan, pengalaman, bahkan sejarah yang tidak pernah benar-benar sama. Barangkali karena itu pula, apa yang saya tangkap dari panggung malam itu hanyalah salah satu kemungkinan dari sekian banyak kemungkinan yang ditawarkan pertunjukan.
Dan mungkin yang diwariskan sejarah bukan hanya peristiwa, melainkan juga cara kita mengingat dan menceritakan peristiwa itu. Yang satu mewariskan luka, yang lain mewariskan rasa malu; yang satu menyimpan doa di depan butsudan, yang lain menyimpan lagu di dada; yang satu mengingat perang sebagai sejarah, yang lain mungkin mengalaminya sebagai sesuatu yang masih terjaga di dalam tubuh. Pada akhirnya, setiap orang datang membawa ingatannya sendiri, lalu pulang dengan membawa ingatan yang sedikit berubah.
Karena itu saya tidak ingin tergesa-gesa mengatakan bahwa pertunjukan ini “kurang” atau “gagal” mengembangkan persoalan agama, nasionalisme, tubuh, kekuasaan, maupun relasi antara individu dan negara yang berkelindan di dalamnya. Rasanya kata-kata semacam itu terlalu cepat menutup pintu yang justru sedang dibukanya. Saya lebih suka mengatakan: beberapa pintu telah terbuka, dan saya masih ingin mengintip ke baliknya. Barangkali ada ruang-ruang yang sengaja dibiarkan menjadi pekerjaan penonton. Barangkali pula ada beberapa kemungkinan yang, jika suatu hari dibuka lebih jauh, akan membuat percakapan tentang agama, sejarah, dan warisan itu menjadi semakin dalam.
Tentu saja, ini mungkin hanya keinginan seorang penonton yang terlalu betah duduk setelah lampu panggung padam, kemudian diam-diam pulang dengan membawa pertanyaan yang jumlahnya lebih banyak daripada ketika datang.
Mungkin karena itu saya kembali kepada bunga hitam dalam judul pertunjukan. Kita hanya melihat bunganya, sementara akar-akarnya bekerja jauh di bawah tanah. Begitu pula warisan: yang tampak mungkin hanya tubuh yang berdiri, lagu yang dinyanyikan, doa yang dipanjatkan, atau sejarah yang diceritakan. Tetapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih panjang: ingatan, rasa bersalah, ketakutan, keyakinan, dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu tubuh kepada tubuh berikutnya.
Malam itu pertunjukan selesai. Tubuh-tubuh di panggung kembali diam, lampu padam, dan penonton pulang. Tetapi cerita itu rupanya belum selesai. Ia pindah tempat, dari panggung ke kepala, dari tubuh para pemain ke tubuh penonton, dari sejarah yang diceritakan kepada sejarah yang kembali dipertanyakan.
Dan mungkin memang di situlah teater bekerja paling jauh: ketika ia selesai di panggung, tetapi menolak selesai di dalam diri kita.
Jakarta, 17 Agustus 2026.
