“Warisan Bunga Hitam”, Rashōmon, dan Cerita yang Belum Selesai

Ada sesuatu yang menarik dari cara Yuko bercerita tentang doa. Ia tidak menggambarkan agama sebagai sesuatu yang ramai. Tidak ada perdebatan teologis atau usaha menjelaskan siapa yang paling benar. Ia hanya membuka butsudan, menyalakan lilin, mempersembahkan dupa, membunyikan orin, lalu menunggu suara lonceng kecil itu menghilang. Setelahnya, ia merapatkan kedua tangan dan memejamkan mata. Selama berdoa, katanya, ia tidak memikirkan apa pun.

Saya membayangkan suara orin itu. Ting. Kemudian diam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin dalam diam itulah Yuko bertemu dengan ibunya, kakek, nenek, dan para leluhur. Dalam naskah, doa baginya bukan hanya ungkapan syukur kepada Buddha, tetapi juga kepada mereka yang telah meninggal dan diyakininya tetap mengawasi serta melindunginya.

Bukankah ini juga cara lain memahami warisan?

Orang yang meninggal meninggalkan sesuatu kepada yang hidup. Bukan selalu kata-kata. Kadang hanya kebiasaan, sebuah altar, tanggal kematian yang terus diingat, bunyi lonceng, cara menangkupkan tangan, atau perasaan bahwa seseorang yang telah pergi belum sepenuhnya meninggalkan kita.

Menariknya, setelah Yuko berbicara tentang leluhur, naskah membawa kita kepada Shoichi. Ia juga bersinggungan dengan agama dan keluarga, meskipun melalui pengalaman berbeda. Ia pernah mengenal lingkungan Protestan dan Katolik, sementara kakek dan neneknya beragama Kristen. Ia juga sedang belajar Alkitab.

Dua aktor Jepang membawa pengalaman religius yang berbeda ke dalam pertunjukan tentang perang dan warisan sejarah: Yuko dengan Buddha, butsudan, ibu, dan leluhur; Shoichi dengan pengalaman Protestan, Katolik, keluarga, dan pembelajaran Alkitab. Keduanya bertemu di panggung Indonesia, negeri tempat agama bukan perkara kecil. Karena itu dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya: ke mana perjumpaan ini akan dibawa; menjadi ruang dialog Indonesia-Jepang atau justru sebuah keheningan?

Di sisi lain, para aktor Indonesia membawa agama dan pengalaman mereka masing-masing. Andhini Puteri Lestari, misalnya, datang dengan riwayat yang cukup berliku. Rizki Ridho hadir dengan pengalaman keislaman yang lebih ketat, demikian pula Sarah, yang membawa pengalaman keberagamaannya sendiri.

Sementara Raymond Y. Patty, atau Ray, membawa persoalan yang lebih berlapis. Ia berdarah Ambon dari pihak ayah dan Jawa dari pihak ibu, tumbuh sebagai orang Ambon di Jakarta, serta mengalami stereotip dan rasisme. Keluarga pihak ayah telah memeluk Protestan selama sekitar sepuluh generasi, sementara kakeknya pernah menjadi anggota KNIL sebelum bergabung dengan TNI setelah kegagalan RMS. Karena itu, bagi Ray, pertanyaan agama segera bersinggungan dengan pertanyaan lain: siapa yang berhak disebut Indonesia, dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan “asli Indonesia”?

Mungkin itulah sebabnya agama dalam pertunjukan ini bukan semata-mata soal siapa beragama apa, melainkan bagaimana seseorang mencari tempat untuk menenangkan tubuhnya. Yuko menemukannya di depan butsudan. Andhini melalui perjalanan spiritualnya. Ridho melalui kebiasaan kecil yang ia ajarkan kepada anak-anak TK: mengucapkan salam, meminta permisi, menunduk, bersalaman, duduk rapi, dan berdoa.

Agama, dengan demikian, hadir sebagai gerak tubuh. Kita sering mengira agama berada di kepala. Padahal sebagian agama mungkin tinggal lebih lama di tubuh. Kita boleh lupa ayatnya, tetapi tangan masih otomatis terangkat; lupa kapan pertama kali belajar membungkuk, tetapi tubuh tahu kapan harus melakukannya. Bahkan ketika lupa siapa yang mengajarkannya, gerakan itu tetap tinggal.

Dari gerakan-gerakan kecil itu, pertunjukan perlahan masuk ke wilayah mimpi dan paranoia. Tubuh-tubuh yang semula teratur mulai kehilangan kepastian; ruang pribadi berubah menjadi ruang perebutan. Tempat tidur yang mestinya menjadi tempat paling aman justru menjadi arena saling berebut. Saya membayangkannya sebagai sebuah rumah kecil, ruang paling privat yang seharusnya memberi perlindungan, tetapi di panggung justru berubah menjadi ruang kecemasan.

Dari ruang kecemasan itulah Macbeth masuk, bukan sebagai cerita yang berdiri sendiri, melainkan seperti mimpi buruk yang menyusup ke dalam pertunjukan. Shoichi, Yuko, Andhini, Sarah, Raymond, dan Ridho bergantian membacakan monolog Macbeth tentang belati: “Apakah ini belati? Saya melihatnya tepat di depan saya.” Kalimat itu berpindah dari satu suara ke suara lain, sehingga Macbeth tidak lagi memiliki satu tubuh; ia seperti terpecah ke dalam tubuh banyak orang.

Mengapa Macbeth harus dibagi-bagi? Mengapa kalimat seorang tokoh Skotlandia abad ke-17 berpindah dari tubuh aktor Jepang ke tubuh aktor-aktor Indonesia? Barangkali karena yang dicari bukan Macbeth sebagai individu, melainkan Macbeth sebagai kemungkinan manusia: seseorang yang melihat belati, entah nyata atau bayangan, lalu bertindak seolah-olah apa yang dilihatnya benar-benar ada.

Di situlah Macbeth menjadi menyeramkan. Bukan semata karena ada penyihir atau hantu, melainkan karena manusia dapat menciptakan kenyataan dari ketakutannya sendiri. Kita takut sesuatu akan terjadi, bertindak karena ketakutan itu, lalu akibatnya membuat ketakutan semula tampak seperti ramalan yang benar. “Tuh, benar kan, sejak awal saya sudah menduga.”

Namun Macbeth dalam The Tragedy of Macbeth, tidak datang sendirian. Ia datang bersama tiga penyihir. Dan imajinasi saya kembali tergoda: kalau tiga penyihir Shakespeare bisa menanam ramalan di kepala Macbeth, apa yang terjadi ketika tubuh Macbeth berhadapan dengan hantu-hantu sejarah Indonesia?

Pertanyaan itu mungkin terlalu jauh. Saya simpan saja. Sebab pertunjukan kemudian membawa kita kepada wilayah yang lebih berat: kelelahan tubuh, perang, rasa malu, dan pertanyaan sederhana yang ternyata tidak sederhana: apa artinya menjadi orang Indonesia?

Di sini pertunjukan mulai menggeser pertanyaannya. Semula kita berhadapan dengan tubuh yang dikendalikan, lalu tubuh yang mencari ketenangan melalui agama, kemudian tubuh yang bermimpi dan paranoid. Kini tubuh itu menjadi tubuh yang lelah.

Kelelahan menarik karena tubuh yang lelah biasanya tidak lagi pandai berbohong. Ketika masih kuat, manusia bisa berdiri tegak, tersenyum, memberi hormat, bahkan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ketika tenaga habis, tubuh mulai membocorkan sesuatu yang selama ini disimpan mulut.

Barangkali sejarah juga begitu. Kita bisa merapikannya dalam buku pelajaran, mengabadikannya dalam monumen, menyusunnya menjadi upacara. Tetapi tubuh yang pernah mengalami kekerasan menyimpan sejarah dengan cara yang jauh lebih sulit dirapikan: dalam ketegangan otot, rasa takut, mimpi, diam, atau tubuh yang tiba-tiba terjaga oleh suara yang sebenarnya tidak berbahaya.

Pertunjukan Warisan Bunga Hitam kemudian mempertemukan kelelahan tubuh dengan suara-suara tentang perang, tanggung jawab, identitas, dan rasa malu menjadi orang Indonesia. Saya mulai merasa bahwa pertunjukan tidak lagi hanya berbicara tentang Jepang dan Indonesia sebagai dua negara dengan hubungan sejarah yang rumit, tetapi tentang bagaimana seseorang hidup setelah sejarah berlalu.

Perang memiliki dua waktu: ketika berlangsung dan ketika telah selesai. Tetapi tubuh kadang tidak tahu bahwa perang sudah berakhir. Ia masih membawanya dalam ketakutan, mimpi, dan diam. Karena itu warisan dalam pertunjukan ini terasa berat. Yang diwariskan bukan hanya cerita tentang menang-kalah, bendera, atau nama pahlawan, tetapi juga rasa malu.

Rasa malu bisa diwariskan dari keluarga, bangsa, bahkan sejarah sebuah negara. Ketika ia muncul setelah tubuh-tubuh mengalami kelelahan, pertanyaan yang lebih pribadi terbuka: saya ini siapa, berasal dari mana, dan apa yang dilakukan orang-orang sebelum saya sehingga harus saya bawa?

Saya tidak ingin buru-buru membawanya ke buku sejarah. Saya masih ingin tinggal di panggung, pada tubuh yang akhirnya berbaring, bukan sebagai tentara, pahlawan, atau korban, melainkan sekadar manusia yang lelah.

Tinggalkan Balasan