Wejangan Bapak

Datang dan pulang dari makam ucapkanlah salam. Begitu dahulu bapak pernah mengajarkan. Sebab mereka sebenarnya ada dan menghuni rumah mereka masing-masing, sayangnya kita tidak bisa melihatnya. Kalau tidak ada, mana mungkin Rasulullah mengajarkannya dengan dhomir kum yang berarti mukhatab, maknanya sedang berbicara langsung dengan lawan bicaranya. Seperti hari ini, semoga bapak, ibu, kakek, juga mbah putri sedang mendengarkan ucapan salamku untuk berpamitan pulang ke rumah.

Dari luar pintu pemakaman kulihat seorang kakek tua mengenakan sarung dengan kopiyah miring di kepalanya sedang berjalan terhuyung memegang tali yang diikatkan ke leher kambing piaraannya. Kurasa dia dari arah selatan alias dari seberang makam berjalan menuju arah desa. Aku urung menaiki sepedaku, tetapi kemudian menuntunnya agar bisa berjalan beriringan dengan kakek itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sugeng enjang mbah, kambingnya mau dibawa ke masjid njeh?”

“Enjang mas, sudah pantes diqurbankan belum?”

“Wah, njeh sampun mbah,” aku sedikit heran dengan pertanyaannya. Sebab kulihat kambingnya sangat putih bersih, gemuk dan cantik, terlihat sangat terawat sekali. Si kambing tampak lincah dan gembira berjalan membelakangi kami, sepertinya dia tidak tahu kalau sebentar lagi akan meregang nyawa, batinku.

“Alhamdulillah mas, akhirnya saya bisa punya kendaraan.” Aku tersenyum mendengarnya.

Tinggalkan Balasan