Dalam hal ini, nahun menjadi salah satu bentuk tirakat bagi santri untuk dapat menahan rindu, menahan keinginan, dan menggantinya dengan kesungguhan dalam belajar dan mengabdi.
Di Pesantren Lirboyo sendiri, satu dawuh yang sering dijadikan motivasi oleh para santri untuk tirakat nahun berasal dari KH Ahmad Idris Marzuki, yang pernah berpesan: “Kamu kalau bisa jangan pulang ke rumah jika sebelum tiga tahun di pondok pesantren. Biasanya nanti kalau tidak jadi orang kaya ya istrinya cantik.”

Boleh jadi sekilas ungkapan ini terdengar remeh dan bahkan aneh. Tapi di balik dawuh itu, terdapat sebuah pesan akan pentingnya kesabaran dan ketekunan. Pikirkan saja, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Tiga tahun dapat menjadi fase pembentukan karakter, juga kesiapan ilmu bagi seorang santri yang sedang menimba ilmu di pesantren.
Sehingga, dawuh beliau di atas kiranya menjadi semacam “isyarat baik” bahwa kesungguhan dalam tirakat tidak akan sia-sia. Entah dalam bentuk kecukupan materi atau kebahagiaan rumah tangga, hasilnya akan terasa pada waktunya.
Tirakat Nahun di Lirboyo
Hari-hari santri yang nahun di pesantren Lirboyo, terutama saat bulan Ramadan, bukanlah hari-hari yang kosong. Setiap waktu diisi dengan berbagai kegiatan bermanfaat yang mengisi hati dengan ilmu. Misalnya, saat bulan Syakban berakhir dan sebagian besar santri pulang, suasana pesantren memang menjadi lebih sepi dari santri. Dan, keheningan itu segera terganti dengan pengajian Ramadan yang diisi oleh segenap Masyayikh di Lirboyo.
Sebagian santri Lirboyo memanfaatkan momen ini untuk tabarrukan, yakni mengaji di pesantren lain atau mengikuti pengajian para masyayikh di Lirboyo sendiri yang membuka pengajian khusus Ramadan. Mereka berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mengambil ilmu dari para ulama, terkhusus para kiai sepuh, dengan harapan mendapatkan keberkahan dari beliau-beliau.
Ada pula yang memilih tetap di pesantren Lirboyo sendiri, memperdalam kitab-kitab yang belum sempat dikaji secara tuntas. Waktu yang sebelumnya terbagi dengan aktivitas lain kini bisa difokuskan sepenuhnya untuk belajar. Tidak sedikit juga yang menggunakan kesempatan ini untuk menghafalkan nazam-nazam pelajaran sebagai persiapan untuk tahun ajaran berikutnya. Hafalan yang mungkin terasa berat di tengah padatnya kegiatan, menjadi lebih ringan ketika suasana pondok lebih tenang.
