Selain itu, aktivitas lain seperti murajaah, diskusi kitab, hingga khidmah kepada para guru menjadi rutinitas yang tak terpisahkan. Bahkan, dalam momen tirakat nahun itu, ada rasa bahagia yang tidak selalu dapat dirasakan oleh santri yang pulang, yakni kebahagiaan karena merasa dekat dengan guru.
Khusus di Pesantren HM Syarif Hidayatullah (HMS) Lirboyo, terdapat salah satu agenda rutin yang semakin mengisi waktu-waktu selama di bulan Ramadan, yaitu istighotsah yang dilaksanakan berdasarkan dawuh dari KH An’im Falahuddin Mahrus, yang mengajak para santri yang masih menetap di pondok hingga akhir Ramadan untuk mengikuti doa bersama.

Kegiatan ini dilaksanakan pada malam-malam ganjil, yakni malam 23, 25, 27, dan 29 Ramadan, bertempat di Maqbaroh Setono Gedong (Makam Syaikh Wasil). Amaliah yang rutin dibaca bersama adalah salat hajat berjamaah dan membaca Hizb Ahl al-Badar dengan kitab bernama Ashlul Qodar.
Fasilitas transportasi serta sahur bersama pun telah disediakan oleh zuriyah sebagai wujud adanya perhatian terhadap kegiatan tersebut. Dalam suasana malam yang tenang dan penuh doa, kegiatan bersama Abi An’im dapat dikatakan menjadi ruang refleksi diri yang lebih menghidupkan makna naun.
Penulis mengakui bahwa akan ada momen-momen di mana rasa rindu itu muncul. Seperti ketika malam takbiran tiba, ketika teman-teman mulai mengirim kabar dari kampung halaman, atau ketika aroma masakan khas Lebaran yang hanya bisa dikhayalkan, pada kondisi semacam itulah ujian hati benar-benar terasa.
Meski begitu, justru dalam momen-momen tersebut substansi tirakat nahun mendapatkan makna yang sesungguhnya. Sebab, dari tirakat nahun, santri selain belajar tentang rasa sabar tidak pulang juga belajar tentang bagaimana ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri.
Satu pelajaran yang hendak penulis sampaikan dari adanya tirakat nahun ialah arti kebahagiaan tidak selalu identik dengan keramaian. Rasa bahagia bisa hadir dalam keheningan, dalam kesederhanaan, bahkan dalam keterbatasan. Menunda kebahagiaan sesaat demi tujuan yang lebih besar bukanlah kerugian, karena sebetulnya itu merupakan bekal kehidupan di masa mendatang.
Lebaran bagi santri nahun boleh jadi tidak diwarnai dengan hangatnya kumpul keluarga, dan rindu pun harus tertahan dalam diam yang tersampaikan sebatas melalui doa. Namun, di balik itu semua tersimpan proses pematangan diri yang menjadikan penantian tersebut penuh makna. Ketika saatnya tiba untuk kembali ke masyarakat, mereka selain pulang sebagai anak juga pulang sebagai pribadi yang lebih siap.
