Seraya membawa se-lenjer bambu, senang-senang iba ia menghampiri pohon pisang yang tumbuh di pojok kanan pekarangan depan rumahnya. Senang karena pohon itu membuahkan epek pisang yang amat banyak lagi panjang-panjang; iba karena mendapatinya amat kurus, doyong, hampir-hampir roboh—tidak kuat digelantungi pisang-pisang yang tampak masih muda itu.
Maka sembari mencagakkan bambu ke ujung batang pohon pisang itu, dengan nada rada kesal ia ngedumel, “Jadi pohon mbok ya a kontrol, sayangi jangan malah mengorbankan diri; apa gunanya menghasilkan buah se-rendel ini apabila sampean malah rubuh?”

Tidak dinyana kemudian, seusai ia menopangkan bambu itu—saat hendak beranjak dari situ—, si pohon pisang menjawab, “Lho hidup saya memang cuma sekali, dan kesempatan saya berbuah pun cuma sekali. Maka bukankah seharusnya kesempatan ini saya gunakan sebaik-baiknya?”
Setelah menghentikan langkah untuk kemudian berbalik arah orang itu menanggapi, “Iya, saya tahu, tapi setidaknya uruslah diri sampean, jangan cuma mengurusi buah sampean.”
“Tidak apa-apa keadaan saya seperti ini, karena belakangan memang saya sengaja membagi makanan yang saya hasilkan hampir semuanya untuk buah saya. Toh selain tidak lagi dalam masa pertumbuhan, hidup saya sepertinya tidak lama lagi. Bukankah setelah buah saya matang atau setidaknya telah tua, sampean bakal menebang saya—sebagaimana yang sampean lakukan pada teman-teman saya yang telah mendahului saya?”
