Ramadan bagi masyarakat desa memberikan arti yang sangat luas. Pembawaannya cendrung ekspresif.
Ramadan di desa bukan hanya menuntaskan puasa selama tiga puluh hari plus tarawih, salat Ied, membuat aneka ragam kue, ziarah makam. Ramadan di desa juga terpancar pada kesadaran sosial dan ekologi; membersihkan rumah dari ruang tamu hingga pekarangan sekitar, tak luput juga makam leluhur. Dampaknya lingkungan rapih-bersih. Kerukunan melalui gotong royong sudah pasti terjalin.

Kosar (nyekar), misalnya, kegiatan yang sudah menjadi kultur di kehidupan masyarakat desa. Nyekar biasanya akan dilakukan sejak menjelang bulan Ramadan hingga menjelang hari raya. Budaya nyekar mendorong kesadaran ekologi terhadap warga untuk menciptakan lingkungan bersih. Itu artinya ke makam tidak cukup hanya berbekal munjiat atau Al-Qur’an saja. Tapi juga sapu lidi, cangkul, atau arit untuk bersih-bersih.
