Jika hanya membaca judulnya, mungkin Anda akan mengira tulisan ini berangkat dari kecurigaan yang begitu berlebihan. Namun di Indonesia, kecurigaan sering kali lebih akurat daripada laporan resmi. Banyak kebijakan yang memengaruhi hidup jutaan orang justru dirumuskan dalam ruang yang jauh dari pandangan publik—ruang yang tersembunyi, dingin, dan penuh map. Maka, tidak berlebihan jika kita bertanya: berapa banyak musibah sebenarnya “diproduksi” di meja rapat sebelum akhirnya muncul dalam bentuk bencana?
Banjir di Pulau Sumatra memberikan ilustrasi yang gamblang. Ketika air bah membawa balok-balok kayu yang terpotong rapi, ia seolah datang sebagai catatan kaki yang tersembunyi dari dokumen perizinan. Tidak perlu ahli hidrologi untuk menyimpulkan bahwa hutan tidak tumbang oleh hujan. Ia tumbang oleh keputusan. Oleh persetujuan. Oleh tandatangan. Bencana ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi arsip kebijakan yang tiba-tiba dibuka secara paksa oleh alam itu sendiri.

Setiap peristiwa banjir selalu melahirkan ritual yang sama: pejabat tampil di televisi dengan wajah yang dirapikan sedemikian rupa, menyampaikan pernyataan yang seragam, seolah-olah mereka membaca dari naskah yang sama: “Ini musibah alam.”
