Kehidupan beragama seringkali dipahami sebagai ruang ketenangan dan kedekatan dengan Tuhan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit individu yang justru mengalami kesulitan dalam beribadah karena kondisi kesehatan mental, khususnya anxiety dan depresi.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, ‘sejauh mana anxiety dan depresi memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan ibadah? Bagaimana Islam memandang kondisi tersebut secara ilmiah dan normatif?

Anxiety pada dasarnya merupakan respons emosional yang normal terhadap stres atau ancaman. Dalam batas waktu tertentu, anxiety bersifat adaptif dan sementara.
Contohnya adalah rasa cemas sebelum presentasi di kelas yang justru mendorong kita untuk mmepersiapkan diri dengan lebih baik, lalu menghilang setelah situasi tersebut selesai. Masalah muncul ketika anxiety menjadi berlebihan, menetap, dan tidak lagi proporsional dengan ancaman yang ada. Pada kondisi ini, kecemasan berubah menjadi gangguan yang mengganggu fungsi sehari-hari, termasuk dalam aspek spiritual.
Adapun, depresi berbeda dari kesedihan biasa. Depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai oleh perasaan sedih berkepanjangan, hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya kita sukai, serta penurunan energi yang signifikan.
Depresi memengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku seseorang, termasuk pola tidur, nafsu makan, konsentrasi, dan motivasi. Oleh karena itu, ketidakmampuan atau ketidakberdayaan dalam beribadah pada orang yang mengalami depresi bukanlah persoalan kemauan semata, melainkan bagian dari gangguan fungsi psikologis yang nyata.
Dari sudut pandang neorisains, anxiety dan depresi berkaitan erat dengan perubahan cara kerja otak. Pada anxiety, bagian otak yang bernama amigdala, yang berfungsi mendeteksi bahaya, menjadi terlalu aktif. Otak terus mengirim sinyal waspada meskipun tidak ada ancaman.
Akibatnya, tubuh berada dalam kondisi tegang, napas menjadi pendek, dan pikiran sulit berhenti dari kekhawatiran. Pada saat yang sama, bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri, fokus, dan ketenangan, terutama prefrontal, menjadi kurang dominan.
Itulah sebabnya individu dengan anxiety sering kesulitan untuk fokus dan merasa tenang saat beribadah. Secara neurologis, otak mereka belum berada dalam kondisi merasa aman.
