Ah.. Ada apa dengan hari ini, bangun tidur, lanjut salat Dzuhur, mata saya terhenti pada sebuah fakta yang membuat dada berdebar. Alih-alih mengecek tulisan kemarin diterbitkan oleh website duniasantri.co atau tidak, saya malah menemukan sebuah tulisan Mas Mukhlisin yang menjelaskan bahwa website ini baru saja merilis karya tulis santri yang ke-5000 (baca di sini).
Seketika, ingatan saya melayang pada pusaran waktu beberapa tahun lalu, saat rutinitas berselancar di Instagram kerap menyisakan sesak di dada. Kala itu, ruang publik digital acap kali bising oleh narasi yang kaku, polarisasi, dan konten nirfaedah. Lebih menohok lagi, tak sedikit komentar miring yang mempertanyakan kontribusi nyata kaum sarungan di tengah masyarakat modern.

Di tengah segala hening yang berbalut reflektif masa-masa itu, saya pernah tertegun membaca untaian doa seorang netizen:
“Andai saja para santri di pondok mencatat keterangan dari gurunya kemudian ditambahkan dengan ilmu yang mereka punya untuk selanjutnya disebarluaskan di media sosial, niscaya ilmu pesantren akan dirasakan banyak orang luar.”
Kalimat itu sempat membuat saya terdiam lama. Saya merindukan sebuah tatanan digital yang berbeda, sebuah dunia di mana kebijaksanaan mengalir jernih dari bilik-bilik pesantren. Saya memimpikan jemari yang biasa membolak-balik kitab gundul itu, kini juga lincah menari di atas papan ketik, menenun kata demi kata untuk menerangi sudut-sudut gelap dunia maya.
Ah.. Apakah mungkin? Kapan santri mulai menulis?
Hari ini, pertanyaan retoris dan kerinduan yang membuncah itu menemukan jawabannya. Angka 5.000 itu bukan sekadar deretan digit mati di atas statistik. Ia adalah sebuah proklamasi, sebuah bukti autentik bahwa santri hari ini tidak hanya diam mengaji, tetapi juga bergerak menggoreskan pena.
Kata tulisan Mas Mukhlisin, tujuh tahun silam, ketika portal duniasantri.co pertama kali mengudara pada 17 Agustus 2019, tak ada yang berani membayangkan titik ini. Membujuk dan merayu para santri untuk menulis di awal gerakan adalah perjuangan keluar-masuk pesantren yang menguras energi. Namun kini, gairah itu telah menjelma menjadi air bah spiritual yang tak terbendung. Hingga detik ini, hampir 10.000 naskah—tepatnya 9.530—telah disubmit oleh para santri.
