Matahari sore itu membakar daratan. Pasukan patroli kecil yang baru saja menyapu wilayah musuh berjalan pulang dengan barisan rapi. Di belakang mereka, debu-debu jalanan bertumpuk bersama deretan tawanan perang dan harta yang berhasil diamankan.
Di antara kerumunan tawanan yang berjalan gontai, ada seorang pemuda yang langkahnya berbeda. Ia tidak tampak panik atau sibuk meratapi nasibnya sebagai tahanan. Matanya hanya menyapu sekeliling, seperti mencari satu sosok yang begitu berharga.

Melihat celah, pemuda itu menegakkan keberaniannya dan melangkah mendekati pemimpin pasukan.
”Tolong, dengarkan aku sebentar,” ucapnya tenang, tanpa nada perlawanan. “Aku bukan prajurit mereka. Aku bahkan tidak ikut bertempur melawan kalian. Aku berada di sini hanya karena satu hal: aku jatuh cinta pada seorang gadis, dan aku nekat mengikutinya ke mana pun ia pergi.”
Para prajurit saling pandang, heran mendengar pengakuan polos di tengah situasi perang.
Pemuda itu menatap mata sang pemimpin pasukan dengan penuh permohonan. “Aku tahu nasibku ada di tangan kalian. Lakukan apa saja yang ingin kalian lakukan padaku nanti. Tapi izinkan aku melihat wajahnya sekali saja. Cuma sekali.”
Merasa tak ada ancaman, barisan tawanan pun digeser. Di sana, di antara barisan perempuan, berdirilah seorang gadis. Ia tinggi, berkulit sawo matang, dan berdiri kaku menatap pemuda itu.
Pemuda itu melangkah pelan, mengikis jarak di antara mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kering.
”Selamatkan dirimu, Hubaysh… sebelum takdir benar-benar menghabisi sisa usia kita,” bisik pemuda itu lembut.
Tatapan matanya terkunci pada gadis bernama Hubaysh itu. Tanpa peduli pada mata-mata prajurit yang mengawasi, ia melantunkan bait-bait syair yang terbit dari kedalaman hatinya:
Pernahkah engkau membayangkan, jika aku terus melangkah menyusulmu…
Menembus Halyah hingga menjejak Al-Khawaniq?
Bukankah sudah sepatutnya seorang pencinta mendapatkan balasan…
Setelah ia mempertaruhkan segalanya, menembus pekatnya malam dan terik yang membakar?
