Spirit Literasi Kiai A. Basith Sajjad

Ketika banyak orang memilih menepi dan beristirahat, jemari Kiai A. Basith Sajjad justru terus menari di atas lembaran kertas, menembus batas waktu, merawat kebiasaan membaca dan menulis.

Baginya, menulis bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk pengabdian tanpa batas. Sebentuk upaya (spirit) yang dihidupkan secara konsisten melalui karya yang tak pernah rehat. Konsistensi ini, mempertegas peran beliau sebagai tokoh agama sekaligus pengasuh di Pondok Pesantren Annuqayah, bahwa dakwah dan tradisi literasi tidak boleh lekang oleh waktu, serta tidak boleh berhenti hanya di atas mimbar khotbah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menilik latar belakang Kiai Abdul Basith, beliau merupakan putra ketiga dari Kiai Abdullah Sajjad dengan istri keduanya, Nyai Aminah binti Kiai Abu Ahmad. Salah satu putra dari pejuang kemerdekaan, almarhum Kiai Haji Abdullah Sajjad yang merupakan keturunan langsung dari Kiai Syarqawi, pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep tahun 1887. Kiai Abdul Basith lahir pada tanggal 4 Juni 1944. Saat itu Indonesia masih belum merdeka (Mata Madura, 2016).

Tumbuh di tengah keluarga yang bersahaja, Kiai A. Basith Sajjad sejak kecil diakrabkan dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai keagamaan. Beliau juga berguru langsung kepada sang kakak, Kiai Haji A. Basyir AS., untuk mendalami ilmu Fikih, Nahu, dan Saraf. Spirit literasi ini rupanya tumbuh sejak usianya masih muda dan merasa haus akan ilmu pengetahuan serta menimba ilmu di bangku sekolah.

Akar keilmuan yang mendalam dan tatanan etos spiritual itulah yang berperan dalam pembentukan fondasi ketahanan literasi Kiai Basith Sajjad di kemudian hari. Berbekal fondasi keilmuan tersebut, kompetensi dan minat belajar tumbuh kian tinggi. Beliau semakin akrab dengan aktivitas membaca dan menulis.

Sepanjang kiprahnya membina santri dan masyarakat, Kiai A. Basith Sajjad konsisten menorehkan pemikirannya melalui berbagai karya tulis, menjadikan pena sebagai sarana dakwah yang melengkapi tuturan lisan di atas mimbar.

Menulis sebagai Bentuk Dakwah

Di tengah era gempuran informasi instan dan media sosial saat ini, masyarakat kita sebenarnya sedang mengalami krisis literasi yang amat serius. Budaya membaca dan menulis sering kali tergeser oleh konsumsi konten dangkal yang serba cepat, memengaruhi daya kritis dan kedalaman berpikir yang kian tergerus. Dampaknya pada potensi diri yang mulai melemah, sulit memahami dan mencerna pengetahuan baru. Akhirnya, melemahkan kemampuan kognitif seseorang atau akrab kita kenal dengan istilah ‘Brainrot’ (Tupamahu, M.S., 2026).

Masalah lemahnya tingkat literasi generasi muda Indonesia, terekam jelas dalam data Programme for International Student Assessment, dari OECD tahun 2022 lalu, mencatat skor kualitas literasi membaca 359 poin, matematika 366 poin, dan sains 383 poin.

Artinya, generasi muda Indonesia mengalami penurunan karena mendapat 369 poin, sebagian besar cukup tertinggal, hanya sekitar 25 persen siswa yang mencapai kecakapan minimum dalam membaca dan 18 persen cakap dalam matematika (Aranditio, 2026). Angka ini sudah cukup menjadi alarm bagi kita semua untuk direnungkan bagaimana solusinya. Perhatian dari pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya juga ikut berperan dalam mengatasi krisis literasi secara mendasar.

Tinggalkan Balasan