Spirit Literasi Kiai A. Basith Sajjad

Menjawab tantangan literasi, sepertinya tidak cukup jika hanya mengandalkan kebijakan formal pemerintah saja. Masyarakat juga membutuhkan keteladanan yang nyata dari tokoh masyarakat yang menghidupkan budaya berpikir secara konsisten di akar rumput. Di sinilah peran Kiai A. Basith Sajjad menemukan arti strategisnya.

Spirit literasi menulis yang beliau miliki harus terus didengungkan di hati setiap santri di Pesantren Annuqayah secara khusus atau semua generasi muda dalam cakupan luas. Beliau termasuk salah satu kiai yang produktif berkarya, meski usianya tidak lagi muda bukan menjadi penghalang utama. Bahkan di masa-masa sakit pun tidak menyulut semangat beliau dalam berkarya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu dari karya-karya beliau, seperti: Idlaluhu al-Fadlil, Nubrat al-Nufus, Himpunan Persamaan Bahasa (Indonesia-Inggris-Arab), Pondok Pesantren Annuqayah: Tinjauan Epistimologis dan Sumbangan Fikiran untuk Pengembangan Keilmuan (2007), Kumpulan Hadits Pilihan: Iman, Islam dan Etika (2014), Antologi Doa dan Dzikir Sehari-hari (2016), dan banyak lagi karya-karya lainnya yang hanya dicetak di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah (Herlina, 2019).

Sejak usia remaja, beliau telah menyukai aktivitas berkarya untuk mengisi waktu luangnya. Tak ayal jika namanya cukup populer di kalangan penulis era 1980-an.

Salah satu karya pertamanya yang pernah ditulis di tahun 1960-an berjudul ‘Peribahasa 3 Bahasa’, yang kemudian dicetak menjadi buku di tahun 1999.

Pemikiran metropolisnya terlihat dari sejumlah karya-karya dan kegiatan yang beliau ikuti. Berdasarkan rekam historis kiprah masa muda Kiai Basith, beliau dikenal sebagai aktivis yang ikut serta dalam pendirian ACFOD di Bangkok. Beliau juga memiliki jejaring dengan sejumlah LSM asing, serta berkomunikasi dengan Gus Dur (Mata Madura, 2016).

Menurut Kiai Basith, berkarya (menulis) merupakan sebentuk upaya mengabdikan kebaikan yang memberi manfaat kepada para pembacanya. Spirit inilah yang tidak pernah padam dalam diri beliau. Sejak usia muda hingga menjelang tutup usia, beliau cukup produktif berkarya.

Melawan Keterbatasan Fisik

Semakin hari, tubuh Kiai Basith bertambah usia, dan tidak lagi muda. Namun, konsistensi berkaryanya tidak sedikit pun berkurang. Meski tubuhnya kian melemah, semua itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berkarya. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk menepi dari ruang gagasan. Beliau tetap merawat tulisan dan melahirkan suatu karya.

Bagi kebanyakan orang, sakit kerap menjadi alasan untuk mengambil jeda. Namun, pena Kiai Basith justru menolak untuk rehat. Di usianya yang kian senja, serta tubuh yang diuji oleh rasa sakit, semangatnya tidak pernah surut sedikit pun. Di sinilah makna dakwah kebudayaan menemukan bentuknya yang paling autentik, yakni melampaui keterbatasan fisik manusia.

Tinggalkan Balasan