konflik agama

Agama Menjadi Sumber Konflik Zaman Modern?

Era postmodern memaksa setiap manusia menerima konsekuensi keterbukaan informasi, membuat masyarakat cenderung berpikir kritis terhadap agamanya sendiri. Di dunia barat, banyak gerakan masyarakat yang mulai mempopulerkan spiritualitas sebagai jalan perlawanan dari “institusi agama”. Para agamawan khawatir bahwa jalan spiritualitas akan mengancam agama-agama formal di dunia.

Keberadaan agama formal dianggap sebagai “penindas spiritual masyarakat” dengan ancaman-ancaman atas segala ritual peribadatannya. Agama baru juga menjanjikan surga sebagai langkah agar mudah diikuti banyak orang. Jalan spiritualitas menjadi aib bagi beberapa orang karena dianggap menyimpang. Sedangkan banyak masyarakat yang masih menjalankan ritual dan perilaku spiritual untuk mengatasi problematika kehidupan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sisi lain, agama tidak cukup cakap menjawab segala kegelisahan umat. Ditambah citra agama yang awalnya mengajarkan cinta, kasih sayang, dan kedamaian berubah menjadi kekerasan, teror, dan pertumpahan darah. Agama terkesan sebagai legalitas atas kebencian, adu domba, dan fitnah untuk mempertahankan keyakinannya. Agama dipandang tidak lagi sebagai jalan menuju kedamaian, tapi malah menjadi permasalahan baru yang jarang ditemukan titik pangkalnya.

Faktor lainnya adalah derasnya arus informasi teknologi yang memudahkan akses ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Kenyataannya banyak orang yang terseret dalam krisis spiritual dan menyukai prinsip ateis ataupun agnostik dalam menjalankan keyakinannya. Media digital seakan membuka mata bahwa agama hanya sarana untuk perdebatan teologi (konsep ketuhanan), persebaran wilayah dalam menyebarkan ajarannya, perebutan umat, dan lain sebagainya.

Disadari atau tidak, prinsip egoisme dalam beragama malah menimbulkan destruksi sosial yang akhirnya mengarah pada sistem yang carut marut, meningkatnya jumlah kemisikian, kebodohan, kerusakan alam, dan konflik kemanusiaan lainnya. Agama menjadikan sikap merasa paling benar dan yang lain salah. Kemudian dogma-dogma yang seolah menggambarkan kenyataan dalam hal akidah dan iman. Jika lebih dipahami lagi, banyak hal dalam ajaran agama yang kontradiktif dengan dalil atau kenyataan kehidupan sekarang.

Tinggalkan Balasan