Aksi Massa: Gelombang Demokrasi dan Islam di Indonesia

Kajian filosofis tentang aksi massa dalam demokrasi memperlihatkan bahwa gerakan rakyat adalah ekspresi praktis dari prinsip sovereignitas populi (kedaulatan rakyat). Dalam teori politik modern, kedaulatan rakyat seringkali diabaikan atau ditundukkan oleh dominasi elit dan kekuasaan negara. Kritik Hegel maupun Marx atas relasi negara dan masyarakat sipil menemukan relevansinya di sini: aksi massa adalah momen pembangkangan terhadap struktur hegemonik yang menindas, sekaligus pengingat bahwa kekuasaan sejati berasal dari rakyat. Marx bahkan menyebut bahwa kontradiksi kelas tidak bisa diselesaikan tanpa keterlibatan aktif proletariat sebagai kekuatan transformatif.

Dalam jurnal Asian Journal of Political Science edisi terbaru (2024), aksi massa di Indonesia dianalisis sebagai fenomena sosial-politik yang menunjukkan dualisme: di satu sisi ia memperkuat demokrasi dengan memberi ruang artikulasi bagi kelompok yang terpinggirkan, namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran akan polarisasi sosial yang semakin tajam. Demonstrasi besar dapat memobilisasi simpati publik, tetapi juga dapat memperuncing sekat identitas jika tidak dikelola dengan bijaksana. Dari perspektif ini, aksi massa tidak hanya persoalan tuntutan politik, melainkan juga ujian kedewasaan bangsa dalam menjaga persatuan nasional.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menariknya, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi komunikasi. Media sosial, misalnya, telah menjadi medium baru dalam memobilisasi massa. Seruan aksi kini tidak lagi terbatas pada selebaran atau forum tatap muka, melainkan menyebar cepat melalui ruang digital. Hal ini mempercepat terbentuknya kesadaran kolektif sekaligus membuka potensi manipulasi informasi. Maka, aksi massa di era digital adalah bentuk dialektika baru antara rakyat, teknologi, dan kekuasaan.

Untuk memahami lebih jauh, kita dapat menoleh pada gagasan Tan Malaka dalam Madilog (1943), di mana ia menekankan pentingnya materialisme, dialektika, dan logika sebagai kerangka berpikir kritis. Konsep dialektika dalam Madilog menekankan bahwa setiap fenomena sosial, termasuk aksi massa, lahir dari kontradiksi yang terus berkembang. Aksi massa bukan sekadar ledakan emosional, melainkan hasil dari akumulasi problem struktural yang mencapai titik kritis. Dengan menggunakan logika dialektika, kita dapat memahami bahwa setiap aksi massa adalah bagian dari proses sejarah panjang menuju transformasi sosial.

Aksi massa yang mengemuka di Indonesia juga memperlihatkan dimensi etika. Dalam tradisi Islam, perlawanan terhadap kezaliman dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Nabi Muhammad pernah menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar sebagai kewajiban sosial. Prinsip ini, bila dipadukan dengan kerangka demokrasi modern, dapat menjadi dasar filosofis bagi rakyat untuk terus memperjuangkan keadilan. Dengan kata lain, aksi massa di Indonesia tidak hanya dipicu oleh keresahan ekonomi-politik, tetapi juga digerakkan oleh keyakinan moral yang berakar dalam tradisi keagamaan.

Kesimpulannya, aksi massa di Indonesia bukanlah sekadar peristiwa politik biasa. Ia adalah manifestasi filsafat kehidupan sosial yang menegaskan kebutuhan rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam pencarian keadilan dan kesejahteraan bersama. Melalui kacamata Tan Malaka dan kajian kontemporer, kita memahami bahwa aksi massa adalah bagian dari dialektika sejarah, hasil kontradiksi yang tak bisa terus-menerus ditekan. Dalam setiap teriakan, spanduk, dan langkah kaki massa, tersimpan narasi panjang tentang harapan, perlawanan, dan perjuangan menuju masyarakat yang lebih adil. Dengan demikian, aksi massa bukan hanya fenomena sesaat, tetapi kekuatan transformatif yang vital dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Referensi:

One Reply to “Aksi Massa: Gelombang Demokrasi dan Islam di Indonesia”

  1. Saya tidak apatis bahkan sangat mendukung adanya aksi massa (demonstrasi). Tetapi sikap refresif, anarkis, dan tindak kekerasan, apalagi disertai denga penjarahan sebagaimana yang terjadi, maka hal itu telah keluar dari visi dan misi aksi massa. Meskipun ditengarai bahwa yang melakukan tindakan anarkis dan penjarahan adalah di luar koridor kelompok aksi. Kita harus tetap menyampaikan aspirasi dengan cara-cara yang ditetapkan oleh syariat Islam: santun dan akhlak mulia.

Tinggalkan Balasan