Islam sendiri sangat menekankan bahwa nilai sebuah pemberian bukan terletak pada nominalnya, melainkan pada niat dan cara pemberiannya. Rasulullah SAW bersabda bahwa memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa cinta antarsesama (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad). Hadis ini mengingatkan kita bahwa fungsi utama dari tradisi uang Lebaran sejatinya adalah mempererat hubungan, bukan memenuhi ekspektasi sosial. Ketika pemberian itu kehilangan dimensi relasionalnya, ia kehilangan rohnya.
Ini bukan seruan untuk menghapus tradisi uang Lebaran. Tradisi yang sudah berakar dalam budaya masyarakat memiliki nilai sosial yang tidak boleh diremehkan. Namun perlu dikembalikan pada fitrahnya: bukan soal berapa, melainkan bagaimana dan mengapa. Selembar uang yang diberikan sambil menatap mata anak, disertai doa dan pelukan, jauh lebih bermakna dari transfer digital ratusan ribu rupiah yang masuk begitu saja ke notifikasi ponsel. Sebab Lebaran, pada intinya, adalah perayaan kehadiran, bukan perayaan nominal.

Tradisi uang Lebaran akan terus hidup selama ada generasi yang meneruskannya. Pertanyaannya adalah apakah kita mewariskan tradisi ini beserta maknanya, atau hanya beserta kebiasaannya. Jawaban atas pertanyaan itu ditentukan bukan oleh seberapa besar amplop yang kita siapkan, melainkan oleh seberapa hadir kita ketika menyerahkannya.
