Sejalan pula dengan reaksi Imam Hasan al-Basri ketika menyikapi orang yang selalu mengghibahinya. Seperti dikutip dari kitab Shaid al-Afkar fi al-Adab wa al-Akhlak wa al-Hikam wa al-Amtsal juz I, al-Qadhi Husain bin Muhammad al-Mahdi menceritakan bahwa pada suatu ketika ada seseorang yang melaporkan kepada Imam Hasan al-Bashri perihal lelaki yang suka menggibahnya.
Alih-alih marah atau tersinggung, ia malah mengirimi lelaki yang mengghibahinya itu satu nampan kurma yang masih segar.

“Aku mendengar kabar kau suka mengghibahiku. Ini aku bawakan satu nampan kurma segar sebagai hadiah balasan atas seluruh kebaikan yang kau berikan kepadaku. Tetapi, mohon maaf jika hadiahku ini tidaklah seberapa ketimbang kebaikan-kebaikanmu,” ucap Imam Hasan al-Bashri.
Tiga reaksi ulama dalam menyikapi perbuatan buruk orang lain ini, tidak satu pun yang mencontohkan membalas dengan keburukan yang sama. Syekh Muhyiddin bin Arabi membalas dengan segala kebaikan dunia. Syekh Muhammad Khalid Tsabit membalas keburukan dengan kebaikan. Sedangkan Imam Hasan al-Bashri menghadiahkan satu nampan kurma segar kepada orang yang telah mengghibahinya.
Lalu, jika kita membalas perbuatan buruk orang lain dengan keburukan yang serupa, atau bahkan dengan keburukan yang lebih buruk lagi, dengan seburuk-buruknya keburukan, maka siapa yang kita teladani?
Sebagai penutup tulisan ‘muhasabah’ ini, marilah perbaiki diri kita! Jika terasa sulit menghadiahkan sepotong roti kepada setiap orang yang mengumpat kita, setidaknya kita tidak melempar umpatan yang sama. Diam saja atau langitkan doa baik untuknya!
Wallahu a’lam bi shawab…
