Bahasa Indonesia, Nahu, dan Ushul Fikih

Singkat kata, sebenarnya ada banyak perumpamaan yang untuk menjelaskan bagaimana pentingnya berbahasa Indonesia dengan baik —yang menurut saya tidak hanya bagi pelajar kitab kuning namun juga penting bagi pelajar pada umumnya— dan bagaimana hubungan  bahasa Arab dan ushul fikih sangat erat.

Selain contoh tersebut, masih banyak contoh lain yang menjadi bukti kedekatan antara nahu dan ushul fikih. Semisal, dalam nahu ada klasifikasi isim nakiroh dan isim ma’rifat yang juga mirip dengan klasifikasi ‘am dan khas dalam ushul fikih. Bahkan keduanya saling memengaruhi akan pemahaman terhadap kalimat bahasa Arab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memungkasi tulisan yang seperti liputan ini, saya ingin menambahkan bahwa ushul fikih dan bahasa Arab adalah warisan kekayaan intelektual yang luar biasa. Mengutip Muhammad Abed al-Jabiri dalam bukunya Formasi Nalar Arab: jika Yunani Kuno memiliki filsafat dan logika, maka bangsa Arab memiliki ushul fikih dan bahasa Arab (yang mencakup balaghah, nahu, dan saraf). Keduanya memiliki hubungan yang dekat.

Referensi/Rujukan:

Perkuliahan materi Ushul Fikih Klasik.

Muhammad bin Muhammad bin Dawud ash-Shanhaji. Al-Ajurrumiyyah.

Syekh Zakaria al-Anshari. Ghayah al-Wushul fi Syarh Lubb al-Ushul.

Muhammad Abed al-Jabiri. Formasi Nalar Arab: Kritik Penalaran Islam.

Tinggalkan Balasan