Tentu, bentuk dan tingkat kemeriahannya berubah menurut zaman. Karena itu, tidak tepat pula membayangkan bahwa setiap abad memiliki bentuk Maulid yang identik dengan tradisi yang kita kenal sekarang.
Masa Ottoman: Maulid Menjadi Peristiwa Publik

Dalam literatur sejarah Ottoman, 12 Rabiul Awal —tanggal yang secara luas diperingati sebagai hari kelahiran Nabi dalam tradisi Sunni— menjadi salah satu momentum penting dalam kalender keagamaan. Pada 996 H/1588 M, Sultan Murad III memerintahkan agar menara-menara diterangi dan Maulid dibacakan di masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah. Sejak periode tersebut, perayaan Maulid memperoleh status resmi dalam protokol kerajaan Ottoman.
Tradisi ini bukan hanya berlangsung di pusat pemerintahan Ottoman. Di wilayah Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah, peringatan Maulid juga menjadi bagian dari kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.
Catatan yang dikutip dari sumber-sumber sejarah Hijaz menggambarkan suasana Makkah pada masa tersebut: masyarakat berkumpul menuju tempat kelahiran Nabi, rumah-rumah diterangi lampu, anak-anak dan keluarga ikut serta, sementara pembacaan sirah dan kisah kelahiran Nabi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Dengan kata lain, Maulid di Hijaz bukanlah fenomena yang baru muncul di Nusantara kemudian dibawa ke Makkah. Justru, terdapat jejak sejarah bahwa masyarakat Makkah sendiri mengenal bentuk-bentuk peringatan tersebut jauh sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi.
Rabiul Awal di Kota Madinah
Catatan yang dinukil oleh sumber-sumber keislaman dan sejarah Ottoman mengenai Madinah menggambarkan 12 Rabiul Awal sebagai hari yang mendapat perlakuan khusus. Menurut catatan Eyup Sabri Pasa, pada hari tersebut Madinah menjadikannya hari libur, meriam ditembakkan dari benteng, dan toko-toko tidak dibuka. Masyarakat mengenakan pakaian terbaik, saling mengucapkan selamat, dan malamnya dihidupkan dengan kegiatan keagamaan di Masjid Nabawi.
Ini penting karena menunjukkan bahwa peringatan Maulid di Madinah pada masa Ottoman bukan sekadar aktivitas yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah tertentu.
Ia memiliki dimensi sosial dan publik, bahkan menurut catatan tertentu memperoleh pengakuan administratif dalam kehidupan kota. Hal ini harus menjadi catatan sejarah uang tidak boleh diabaikan.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan, “Makkah dan Madinah sejak dahulu tidak mengenal Maulid,” maka pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan sejarah. Bahkan abai terhadap jejak sejarah yang telah ditorehkan sejak masa awal. Bahwa di Madinah dan Makkah terdapat historika perayaan Maulid Nabi SAW.
Suasana Rabiul Awal
Sejumlah catatan tentang tradisi Hijaz pada masa sebelum berdirinya Arab Saudi juga menggambarkan suasana Rabiul Awal sebagai bulan yang memiliki nuansa khusus.
Dalam berbagai riwayat sejarah mengenai Maulid Makkah disebutkan adanya penerangan rumah-rumah dan jalan yang dilewati rombongan menuju tempat kelahiran Nabi. Tradisi penghiasan dan penerangan tempat-tempat ibadah juga dikenal luas dalam kebudayaan Ottoman ketika memperingati Maulid.
