Seorang anak yang terus menerus melihat pertengkaran di rumahnya

Di Balik Santri yang Sulit Diatur

Tidak sedikit, penghakiman yang berulang justru membuat santri semkain memberontak. Ia merasa tidak ada satupun tempat yang benar-benar menerimanya. Ketika di rumah ia tak pernah mendapatkan kehangatan, kemudian dipesantren terus-menerus mendapatkan ocehan dan  amukan dari pengurus atas tindakannya yang sedikit nakal. Akhirnya, pelanggaran demi pelanggaran menjadi cara yang keliru untuk melampiaskan kekecewaan yang tidak pernah tersampaikan.

Kita perlu menyadari bahwa anak-anak seperti ini bukanlah musuh pesantren. Mereka bukan anak yang gagal. Mereka hanya sedang berjuang menghadapi persoalan yang mungkin tidak sesuai dengan usia mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Begitupun, kita tidak bisa juga langsung menyalahkan orang tuanya. Yang salah ialah cara mereka menyalurkan rasa pedih, kecewa, atau marah ke perilaku yang tidak seharusnya mereka lakukan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bimbingan, bukan sekadar nasihat yang hanya lewat di telinga. Mereka membutuhkan pemahaman, bukan sekadar hukuman dan cap negatif.

Di sinilah letak peran besar pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga tempat membangun kembali harapan dan kepercayaan diri seorang anak. Di mana, pesantren itu menjadi ruang yang membuat santri merasa diterima, didengar, dan dibimbing menuju jalan yang lebih baik. Jangan sampai seorang santri merasa dia hanyalah sampah pesantren, yang harus ditutupi dari orang lain. Hal yang membuat mereka semakin merasa tidak berguna dan memberontak.

Sebab bagi sebagian anak, mungkin pesantren adalah tempat terakhir yang mereka harapkan, yang dapat disebut sebagai rumah rahmah. Jangan sampai pesantren justru sama seperti rumah yang selama ini tidak pernah berhasil mereka rasakan sebagai tempat pulang.

Tinggalkan Balasan