BUMI YANG KEHILANGAN MUSIM
Di masa lampau, Desember selalu datang bersama hujan
Kini, langit lupa caranya menangis,
sedangkan tanah telah retak diterpa matahari dan angin

Berapa juta kali petani menanam doa
lebih banyak daripada menabur benih.
Anak-anak yang lugu bertanya, “Kenapa bumi terasa marah terhadap kami?”
LANGIT BERWARNA ASAP
Dengan wajah pucat matahari terbit
Sedangkan asap lebih sengit membunuh langit
Burung-burung pergi tanpa sempat berpamitan
Sedangkan orang-orang tetap berjalan cepat mengejar kehidupan
sambil perlahan memusnahkan tempat ia sendiri berpulang.
ANAK-ANAK TANPA HUTAN
Anak-anak tanpa hutan
Yang tumbuh bersama layar,
Yang tak mendengar suara daun saat melambai
Makhluk-makhluk indah tak lagi dikenal dari jejaknya di tanah basah.
Tak ada anak yang tahu aroma kayu setelah hujan,
begitupun aroma tanah yang mengikat pikiran
Dan kini, tak ada anak yang tahu bahwa kuku orang mati menjelma menjadi kunang-kunang.
HUJAN YANG TIDAK PULANG
Ada musim
ketika hujan datang terlalu lama,
mengetuk atap siang dan malam
seolah bumi sedang dihukum.
Sungai meluap membawa kenangan,
jalan-jalan berubah menjadi laut kecil,
dan manusia belajar
bahwa air pun bisa marah.
Sejak itu,
setiap mendung datang,
orang-orang mulai takut
pada langitnya sendiri
SURAT TERAKHIR DARI POHON
Aku ditebang pagi tadi,
kata pohon itu
dalam surat yang ditemukan
di antara akar dan lumpur.
Aku pernah memberi kalian teduh,
udara,
dan rumah bagi burung-burung kecil.
Tapi kalian lebih menyukai
