Seorang anak yang terus menerus melihat pertengkaran di rumahnya

Di Balik Santri yang Sulit Diatur

Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madarasah pertama bagi anak. Bahkan kita sering mendengar pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

Komunikasi, sikap, sifat, dan hal lain ditiru langsung oleh anak dengan apa yang  dilihat di tengah keluarganya. Maka ketika fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan dengan baik, dampaknya tidak berhenti di rumah saja. Luka yang didapatkan di lingkungan keluarga sering kali ikut terbawa ke sekolah, ke pergaulan, hingga ke pesantern. Mungkin sebagian dari mereka mampu mengontrol emosinya, tetapi sebagian lainnya tidak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sayangnya, sebagian lingkungan pendidikan masih melihat pelanggaran hanya dari permukaannya. Ketika seorang santri berbuat salah, langkah pertama kali yang sering dilakukan adalah menghukum dan menghakimi. Padahal, tidak semua anak yang bermasalah adalah anak yang ingin membuat masalah. Mungkin sebagian hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan luka yang mereka rasakan.

Hal tersebut perlu diperhatikan oleh pengurus dan pendidik pesantren. Tugas pesantren bukan sekadar menegakkan kedisiplinan dan menyamaratakan semua anak, tetapi juga memahami manusia yang sedang dididik.

Sebelum memberi label atau menjatuhkan penilaian, penting untuk mengenali latar belakang keluarga santri, kondisi psikologisnya, dan perjalanan hidup yang membentuk dirinya hari ini. Bukan berarti setiap pelanggarnnya harus dimaklumi. Aturan tetap harus berjalan dan kesalahan tetap perlu dibina. Namun, pendekatan yang berangkat dari pemahaman akan jauh lebih efektif daripada pengakiman terburu-buru. Anak yang merasa dipahami cenderung lenih mudah meneria nasehat dibanding anak yang merasa terus-menerus disalahkan.

Tinggalkan Balasan