Kebetulan, saat itu Nabi Muhammad lewat, lalu menghampiri kegaduhan itu. Menjawab pertanyaan Rasul, salah satu sahabat mengadukan kejadian sesaat sebelumnya, tentang kemabukan Nuaiman.
Apa yang terjadi? Rasul tidak ikut mencela Nuaiman, tapi justru memarahi para sahabatnya. “Jangan pernah sekali lagi kalian semua menghujat dan melaknat Nuaiman. Meskipun seperti ini, tapi dia selalu membuatku tersenyum. Dia masih mencintai Allah dan Aku, dan tidak ada hak bagi kalian melarang Nuaiman mencintai Allah dan mencintaiku sebagai Rasul.”

Kapan Nuaiman membuat Rasul tersenyum, tertawa, dan gembira?
Diceritakan, suatu ketika, sesaat setelah sadar dari mabuknya, Nuaiman merasa perutnya keroncongan karena lapar. Tanpa banyak pikir panjang, ia mencegat penjual makanan yang kebetulan lewat di depan masjid lalu memesan dua bungkus. Nuaiman kemudian masuk masjid dan mengajak Rasul untuk makan bersama di luar masjid. Selesai makan, Rasul hendak kembali ke masjid namun dihadang oleh Nuaiman.
“Mau kemana ya Rasul? Habis makan masak tidak bayar,” kata Nuaiman.
Rasul pun tersenyum dan balik bertanya, “Yang pesan, kan, kamu?”
“Betul ya Rasul. Tapi di mana-mana raja itu mengayomi rakyatnya, penguasa melayani warganya, bos mentraktir karyawannya, masak saya yang harus bayar, ya Rasul?”
