Didi Kempot dan Kisah Nuaiman

Nabi Muhammad pun terkekeh sambil merogoh koceknya, memberikan sejumlah uang kepada Nuaiman untuk mentraktirnya.

Di lain waktu, Nuaiman diajak berdagang ke Negeri Syam oleh sahabat Abu Bakar. Selain Nuaiman, Abu Bakar juga mengajak beberapa sahabat lainnya, salah satunya adalah Suwaibith bin Harmalah. Seluruh delegasi dagang diberi tugas masing-masing oleh Abu Bakar, kecuali Nuaiman. Karena dikenal paling amanah, Suwaibith diberi tugas untuk menjaga makanan. Di suatu siang, didorong oleh rasa lapar, Nuaiman mendekati Suwaibith. Ia meminta sepotong roti. Karena memegang amanah dari Abu Bakar, Suwaibith tak langsung memberikan roti yang diminta Nuaiman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak terima permintaannya ditolak, Nuaiman menggertak: memberinya roti, atau akan mendapat masalah baru. Suwaibith bergeming. Dengan rasa kecewa dan tak kuat menahan lapar, Nuaiman pergi menuju pasar. Kebetulan, di pasar ada transaksi jual beli budak. Dari situ Nuaiman tahu, harga pasaran budak per kepala antara 100 sampai 300 dirham. Ide muncul, mata Nuaiman berbinar. Kepada pedagang budak, ia mengaku punya seorang budak yang akan dijual murah, cuma 20 dirham.

Banyak pedagang yang terbuai ingin membeli. Namun, sebelum traksaksi dilaksanakan, kepada calon pembelinya Nuaiman memberi keterangan soal perangai buruk “budak” yang dimilikinya. Si “budak” selalu mengaku sebagai orang merdeka, dan bukan hamba sahaya, saat akan dijual. Setelah deal soal harga, Nuaiman pun mengajak Suwaibith ke pasar. Alamak, saat itulah Suwaibith dibeli oleh salah seorang dan dijadikan budak.

Dengan uang hasil penjualan Suwaibith, Nuaiman pun kemudian membeli makanan, dan bahkan sempat membelikan hadiah untuk Rasulullah. Sementara, Abu Bakar yang sudah merasa lapar mencari-cari Suwaibith. Melihat kebingungan Abu bakar, dengan santai Nuaiman mengaku bahwa dirinya telah menjual Suwaibith. Nuaiman kemudian membawa Abu Bakar ke pasar dan membeli kembali Suwaibith.

Saat semua rombongan dagang sudah pulang, kisah itu oleh Abu Bakar diceritakan kepada Rasul. Mendengar kisah itu Rasul tidak marah, justru tertawa terbahak-bahak hingga terlihat gigi gerahamnya. Rasul malah sering menceritakan kisah penjualan Suwaibith itu kepada para tetamu yang datang. Selalu membuatnya tersenyum, tertawa, dan gembira itulah yang membuat Rasul begitu mencintai Nuaiman.

Begitu juga Sobat Ambyar, yang begitu mencintai Didi Kempot lantaran selalu membuat orang terkekeh, tersenyum, tertawa, dan berjoget ria bahkan di tengah luka. Itulah amal hidupnya: membuat orang merasa bahagia. Menjadi teman di tengah duka. Duka lara tak perlu diratapi hingga kita menjauhi rasa putus asa —sebab putus asa adalah perbuatan setan. Dan itulah, juga, yang diajarkan oleh para sufi. Sakit itu harus dinikmati, dijogeti, bukan dirutuki.

Tinggalkan Balasan