Diakui atau tidak, beberapa tahun terakhir ruang virtual atau dunia maya kita seringkali dijadikan instrumen oleh sebagian kalangan untuk memecah belah keharmonisan demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Tak pelak, narasi-narasi bernuansakan SARA, ujaran kebencian, hoaks, adu domba, dan lain-lain kerap mewarnai percakapan di dunia maya. Akibatnya, konflik antarsesama di tengah masyarakat tak dapat dihindari.

Ironi tersebut juga ditopang dengan perkembangan di bidang teknologi informasi. Perkembangan ini memudahkan umat manusia di seluruh penjuru dunia untuk mengakses beragam informasi, dan melakukan komunikasi sekalipun dengan orang yang tak dikenal sebelumnya. Interaksi tidak lagi dibatasi oleh teritorial tertentu. Saban waktu informasi dapat diperoleh dengan mudah dan cepat.
Alih-alih perkembangan tersebut memberi kemudahan melimpah ruah kepada manusia yakni sarana untuk berkomunikasi yang nyaman dan menyenangkan, justru menjerumuskan penggunanya kepada jurang permusuhan dan perpecahan. Hal ini ditengarai oleh memudarnya kesadaran setiap individu akan pentingnya sebuah etika dan tanggung jawab dalam berkomunikasi, mengakses dan menyebarkan informasi.
Maka tidaklah berlebihan kiranya apabila saya mengatakan bahwa kehadiran media bernama “duniasantri” begitu urgen di tengah hiruk pikuk dan ambiguitas dunia maya. Tentu untuk memutus sekaligus mengonter maraknya media-media yang seringkali mengedarkan narasi-narasi penuh kebencian, memecah belah, bernuansa hoaks, dan mengadu domba antarsesama di tengah masyarakat.
