Durian, Marning, dan Buah Pancasila

Sebagai ganti, mereka memutuskan bermain kartu uno dan gaple. Sungguh, sebuah ironi. Mahjong yang dibawa Albi bahkan tidak jadi dimainkan, karena Albi, yang terbilang Gen-Z itu, tidak ngotot tetap bermain kartu uno. Ia lebih memaklumi sang tamu yang malam itu menjadi minoritas di antara generasi-generasi Gen-Z. Akhirnya, diputuskan untuk bermain gaple. Jadul amat, ya.

Sebagai santri, Albi tentu memahami betul kaidah adab, yaitu bagaimana menjaga etika di hadapan orang yang lebih tua. Ia sadar Mukhlisin tidak akan bisa mengikuti irama permainan yang lebih banyak dimainkan Gen-Z.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sikapnya itu sejalan dengan salah satu kaidah dalam tradisi pesantren yang berakar pada hadis Nabi, “Laysa minna man lam yarham shagirana wa yuwaqqir kabirana.” (Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang lebih tua—HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Albi dan kawan-kawan memilih memuliakan Mukhlisin, dan itulah yang membuat permainan gaple terasa lebih meriah dari sekadar makan durian.

Di hari berikutnya, pesan lain masuk. Mukhlisin mengabarkan bahwa Albi datang membawa oleh-oleh kacang tanah, kacang asin, jagung marning, dan kacang polo. Bagi masyarakat Jawa, pemberian sederhana ini adalah cerminan dari kearifan lokal yang mengajarkan bagaimana membahagiakan tamu dengan segala yang dimiliki. Tamu adalah raja, dan perlakuan Albi kepada Mukhlisin adalah bukti nyata.

Ah, andai saja anggota dewan kita mau belajar adab dari santri seperti Albi. Mungkin, mereka tak akan pernah absen saat “raja” mereka—rakyat yang menggelar unjuk rasa—membutuhkan jawaban. Para santri itu justru akan membawakan nasi pecel agar para anggota dewan belajar bagaimana aneka dedaunan dan kacang tidak berebut rasa, sehingga tercipta keseimbangan dan kebijakan yang nikmat.

Dengan sepenuh hati, tuan rumah akan menyuguhkan apa yang ada di depan mata. Hal ini kian terasa ketika di hari terakhir, saya mendapat kabar lagi, kali ini dari Rara, sang ketua panitia, membawa sarapan nasi pecel. Hidangan sederhana yang sarat akan kehangatan dan ketulusan, sebuah penutup yang sempurna untuk perjalanan yang, meskipun tidak menjawab pertanyaan saya, justru memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang arti sebuah persahabatan dan keramahtamahan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang nilai-nilai Pancasila itu tetap menggantung. Terjawab sudah, bahwa pertanyaan filosofis akan selalu kalah telak oleh kenangan nasi pecel yang hangat, marning yang kemeriuk renyah, atau oleh keseruan bermain gaple. Mungkin, itulah makna sesungguhnya dari jejaring duniasantri. Bukan tentang struktur formal, tapi tentang menjalin kekerabatan yang kuat, bahkan ketika pertanyaan paling serius pun hanya berujung pada cerita Wonosalam.

“Bagaimana kalau kita bikin workshop penulisan dengan tema ‘Membumikan Nilai-Nilai Pancasila di Kalangan Santri’?” Pertanyaan itu tiba-tiba datang saat saya sedang terdistraksi oleh adanya unjuk rasa yang kecewa dengan perilaku “lucu bin ajaib” pejabat negeri ini, khususnya anggota DPR (25-29 Agustus 2025 ). Unjuk rasa itu berujung dengan perusakan fasilitas umum dan penjarahan.

“Bagaimana, Kiai?” desak Mukhlisin. “Saya sudah di Depok,” ia menegaskan setelah sekian pesannya tidak saya balas.

“Saya lagi malas,” jawab saya singkat.

“Kenapa?”

One Reply to “Durian, Marning, dan Buah Pancasila”

Tinggalkan Balasan