“Saya hanya ingin nasi jagung dan kacang-kacangan dari Jombang dengan keberagaman bumbu yang dapat menyatukan semua rasa.”
“Seleramu pancasilais banget,” komentar Mukhlisin, bercanda.

“Sejak lahir dan menjadi santri saya sudah pancasilais. Indomie, tempe, nasi putih, dan nasi jagung, dan terasi bisa kami nikmati sekaligus tanpa memisahkan.” Saya membalas dengan senyum getir.
“Bagaimana kalau kita bikin lomba penulisan esai dengan tema tadi?” desak Mukhlisin.
“Membumikan Nilai-Nilai Pancasila?”
“Iya,” jawabnya.
“Kalau begitu kita mesti ketemu dengan Ibu Irene dulu,” jawabku bersemangat.
“Oke. Kalau begitu, saya komunikasikan dengan beliau.”
“Jangan lupa, saat bertemu beliau bawa aneka ragam kuliner Nusantara,” pesanku.
“Untuk apa?”
“Untuk disatukan menjadi satu rasa dalam perjamuan kebangsaan,” selorohku sambil tertawa. “Dan jangan cari durian di Depok, soalnya di sini tidak ada pohon durian, adanya pohon beton.”

Saya malah salfok sama buah duriannya, yang lain mah dah biasa, wkwkwkkkk,,,