Kedua, narsisisme spiritual. Banyak pelaku mengklaim dirinya sebagai “wali Allah” atau sosok suci yang harus ditaati. Ini bukan sekadar manipulasi, melainkan cerminan gangguan jiwa berupa grandiose self—keyakinan berlebihan akan kesucian diri yang membuat pelaku merasa segala tindakannya, sekalipun keji, adalah “perintah gaib”. Dalam psikologi Islam, ini adalah bentuk kesombongan spiritual (ujub dan takabbur) yang justru merupakan penyakit hati paling berbahaya karena pelaku merasa tidak butuh lagi pada bimbingan Allah.
Ketiga, mekanisme pembenaran (rationalization). Pelaku menggunakan dalih “terapi batin” atau “pengobatan penyakit hati” untuk melegitimasi tindakan cabulnya. Ini adalah bentuk pembelaan ego (ego defense mechanism) dalam psikologi modern, yang dalam psikologi Islam disebut talbis—menyamarkan kebatilan dengan kebenaran. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil...” (QS Al-Baqarah: 42)
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan agama tidak otomatis menjamin moralitas. Religiusitas tanpa diiringi kerja keras membersihkan hati (tazkiyatun nafs) hanya akan menghasilkan kesalehan palsu yang rentan runtuh saat dihadapkan pada ujian hawa nafsu.
Relasi Kuasa dan Trauma Korban
Yang membuat kasus ini semakin tragis adalah bagaimana pelaku memanfaatkan relasi kuasa yang timpang antara pelaku dan santrinya. Dalam tradisi pesantren, pengasuh bukan sekadar guru, melainkan figur moral, pendidik ruhani, sekaligus pengasuh umat yang memiliki sanad keilmuan dan kehormatan diri. Penghormatan yang seharusnya melahirkan keteladanan ini justru dipelintir menjadi alat penindasan.
Pelaku menanamkan doktrin ketaatan mutlak—bahwa menolak perintah guru berarti melawan Tuhan. Doktrin sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) yang sejatinya adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dipelintir menjadi kepatuhan buta terhadap guru, bahkan ketika perintahnya bertentangan dengan syariat. Para korban dibuat takut dengan ancaman “dosa besar”, “kualat”, atau dicabut keberkahannya jika berani melawan.
