Semakin saya membaca kisah-kisah tentang panjenengan, semakin saya merasa bahwa panjenengan bukan hanya sedang mengajarkan ilmu agama. Bukan pula sekadar sedang membangun organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Panjenengan sedang membangun cara hidup. Sebuah cara hidup yang sederhana, mandiri, dan tidak terpesona pada kuasa.
Di zaman sekarang, ketika seseorang baru menjadi anggota dewan tingkat kabupaten saja kadang sudah merasa perlu dikawal, dijaga jaraknya, bahkan merasa terlalu tinggi untuk menyentuh pekerjaan kecil; panjenengan justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Bayangkan, Kiai. Panjenengan seorang anggota DPR, tokoh nasional, pengurus besar NU, pengasuh pesantren—tetapi ketika pulang ke Jombang, panjenengan masih memelihara ayam sendiri. Ketika telur-telur ayam itu mulai banyak, panjenengan membawanya sendiri ke pasar dan bertanya kepada pedagang dan bertanya:“Piro ki regane?”
Saya membayangkan adegan itu berkali-kali: pagi yang masih basah oleh embun, jalan pasar yang dipenuhi bau tanah, bau jerami, dan sayur-mayur yang baru datang dari kebun, lalu di tengah hiruk-pikuk itu berjalan seorang kiai besar membawa telur ayamnya sendiri—tanpa protokol, tanpa mobil dinas, tanpa ajudan, tanpa wajah yang sibuk menjaga citra; dan mungkin justru di situlah kewibawaan panjenengan terasa sangat besar.
Sebab orang-orang seperti panjenengan tidak membutuhkan kemewahan untuk terlihat mulia; kemuliaan itu justru tumbuh dari kesediaan hidup bersama kenyataan sehari-hari. Panjenengan tidak merasa hina merawat ayam dan tidak merasa rendah menjual telur, sebab bagi panjenengan bekerja dengan tangan sendiri bukanlah aib, melainkan bagian dari kehormatan hidup itu sendiri.
Yang aib justru ketika seseorang kehilangan rasa hormat kepada kerja dan perlahan kehilangan rasa hormat kepada kehidupan kecil, sebab mungkin itulah yang hari ini mulai hilang dari banyak tokoh kita: kemampuan untuk tetap membumi setelah memiliki kuasa. Padahal dalam tradisi pesantren, ilmu tidak pernah hanya dimaknai sebagai hafalan kitab atau keluasan dalil, melainkan juga sebagai laku hidup, cara memandang manusia, dan cara menjaga kesederhanaan di tengah kedudukan; dan panjenengan tampaknya benar-benar menjaga itu sepanjang hidup panjenengan.
Panjenengan belajar dari banyak kiai besar—dari Langitan, Bangkalan, Tebuireng, hingga Mekkah—tetapi semakin tinggi ilmu panjenengan, semakin sederhana pula hidup panjenengan; dan semakin luas pergaulan panjenengan dengan tokoh-tokoh nasional seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Soekarno, semakin dekat pula panjenengan dengan rakyat biasa.
Ada keindahan yang sangat manusiawi di sana, dan mungkin justru karena itulah pengaruh panjenengan terasa begitu panjang hingga hari ini; sebab panjenengan tidak membangun wibawa dari rasa takut atau jarak kekuasaan, melainkan dari keteladanan yang tumbuh pelan-pelan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari ini, ketika kehidupan sering diukur dari mobil, jabatan, rumah besar, dan pencitraan, kisah panjenengan terasa seperti tamparan yang halus: bahwa seseorang ternyata bisa menjadi tokoh nasional tanpa kehilangan kesederhanaannya, bisa menjadi anggota DPR tanpa kehilangan rasa hormat kepada pasar, dan bisa menjadi ulama besar tanpa kehilangan kemampuan untuk hidup “serungking” sendiri.
Kiai, dari kegelisahan sekaligus kekaguman itulah, kami ingin melangkah melalui Festival Dunia Santri 2026: sebuah ikhtiar kecil untuk menghadirkan ruang tempat para santri tidak hanya diajak menghafal, tetapi juga berpikir; tidak hanya diajak berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan Indonesia.
Kami membayangkan sebuah ruang di mana puisi, esai, cerpen, ilmu, musik, kebudayaan, dan kegelisahan sosial dapat bertemu dalam satu napas pesantren, sebab kami percaya bahwa pesantren tidak pernah lahir untuk menjadi penonton zaman, melainkan untuk menjaga nurani zaman itu sendiri.
Dan semoga, di tengah dunia yang semakin gaduh ini, para santri masih bisa menjaga nyala kecil yang dahulu panjenengan titipkan: cinta kepada ilmu, cinta kepada tanah air, dan keberanian untuk tetap sederhana di tengah godaan kuasa.
