Padahal dahulu panjenengan mendirikan Taswirul Afkar bukan untuk membuka ruang saling menyingkirkan, melainkan ruang berpikir. Panjenengan membangun Syubbanul Wathan bukan untuk menumbuhkan kebencian, tetapi untuk menanamkan cinta tanah air. Bahkan lagu “Ya Lal Wathan” yang sampai hari ini masih dinyanyikan para santri itu lahir dari kecintaan kepada negeri, bukan dari ambisi kekuasaan.
Kadang saya membayangkan bagaimana perasaan panjenengan melihat keadaan sekarang. Ketika sebagian orang lebih sibuk memperebutkan panggung organisasi daripada memikirkan nasib santri kecil di kampung-kampung yang masih belajar di bawah atap bocor. Para kiai kampung yang tetap mengajar ngaji selepas Magrib dan Isya dengan tanpa berharap bayaran. Pesantren-pesantren kecil yang bertahan dengan iuran seadanya, sementara di luar sana orang-orang berdebat tentang pengaruh, posisi, dan kekuasaan atas nama umat.

Bagaimana mungkin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama—yang lahir dari pergulatan batin dan perjuangan panjang panjenengan, KH M Hasyim Asy’ari, dan KH Muhammad Kholil—kini begitu mudah diguncang urusan kekuasaan?
Dan setiap kali pikiran itu datang, saya selalu teringat sebuah kisah yang ditulis Nyai Hj Muktamaroh Wahab dalam buku KH. Abdul Wahab di Mata Keluarga (2024) yang disusun dan disunting Ubaidillah. Kisah yang sederhana, tetapi diam-diam menyimpan luka panjang tentang perjuangan.
Dalam cerita itu, panjenengan tidak hadir sebagai tokoh besar yang dielu-elukan orang, tidak datang dengan sorban kehormatan atau sambutan yang gegap-gempita, melainkan hadir sebagai seorang pengembara dakwah yang berjalan dari kampung ke kampung, dari surau ke surau, akrab dengan malam, kelelahan, dan penolakan; dan kisah itu dimulai menjelang subuh, di sebuah daerah di Madura, ketika tubuh panjenengan yang letih hanya mencari tempat singgah sederhana setelah perjalanan panjang memperkenalkan gagasan Nahdlatul Ulama.
Setelah perjalanan panjang memperkenalkan gagasan Nahdlatul Ulama, panjenengan memilih singgah di sebuah surau kecil karena malam sudah terlalu larut untuk mengetuk pintu rumah orang-orang; maka musala sederhana itu pun menjadi tempat persinggahan paling sunyi bagi tubuh yang kelelahan. Surban atau sarung dilipat menjadi bantal, tanpa lampu penerang, tanpa karpet, tanpa penghormatan apa-apa—hanya dingin malam dan seorang kiai yang letih selepas perjalanan dakwah yang panjang. Hingga pagi datang, dan penjaga langgar yang sudah tua itu ternyata tidak mengenali panjenengan.
Ia menegur dengan kasar karena mengira lelaki yang tertidur di surau itu hanyalah orang asing yang mengganggu—barangkali pengemis, barangkali pengelana yang tidak jelas asal-usulnya.
Betapa ironis: seseorang yang kelak dikenang sebagai salah satu pendiri organisasi Islam terbesar di negeri ini justru pernah dicurigai di musala kecil, di tanah yang sedang ia perjuangkan sendiri. Tetapi mungkin justru di situlah kebesaran panjenengan, sebab tidak ada kemarahan, tidak ada dendam, bahkan tidak ada hasrat untuk berkata, “Aku ini siapa?”
Panjenengan tidak memaksa untuk dikenali dan tidak merasa harus dihormati; panjenengan tetap berjalan, tetap mengetuk hati orang-orang desa, tetap membawa gagasan NU dengan tubuh yang letih dan keyakinan yang panjang. Dan mungkin memang di situlah letak kebesaran yang sesungguhnya: bahwa Nahdlatul Ulama ternyata tidak dibangun dari ruang-ruang mewah atau kursi-kursi kekuasaan, melainkan dari kantuk yang ditahan, jalan kaki yang jauh, zikir-zikir malam, tubuh yang kelelahan, dan seorang kiai yang pernah tidur sendirian di musholla desa tanpa dikenali siapa pun.
Kadang saya berpikir, seandainya hari ini panjenengan berjalan lagi dari kampung ke kampung, apakah panjenengan masih akan menemukan Nahdlatul Ulama yang dulu panjenengan rintis dengan penuh perjuangan lahir batin itu? Atau jangan-jangan, di tengah riuh jabatan dan perebutan pengaruh, kita justru sedang perlahan kehilangan ruh yang dahulu membuat organisasi ini lahir?
Dan kegelisahan itu semakin terasa ketika saya membaca kisah lain tentang panjenengan, sebagaimana dituturkan oleh Nyai Hj Hizbiyah Wahab, dalam buku yang sama, yakni, KH. Abdul Wahab Hasbullah di Mata Keluarga.
Ada sesuatu yang terasa sunyi sekaligus agung dalam kisah-kisah itu. Sesuatu yang hari ini mungkin mulai jarang kita temukan: seorang ulama besar yang tidak menjadikan kebesarannya sebagai panggung untuk meninggikan diri.
