Kiai, dengan hormat dan takzim, surat ini saya tulis bukan semata-mata untuk berkabar tentang agenda Festival Dunia Santri 2026 yang insyaallah akan kami gelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada Juni 2026; tidak, Kiai, lewat surat ini saya juga ingin berbagi tentang sebuah kegembiraan kecil yang diam-diam tumbuh setiap hari di ruang redaksi duniasantri.co.

Di tempat kecil itulah kami membaca tulisan para santri: esai-esai yang lahir dari kegelisahan, opini-opini yang mencoba memahami zaman, puisi-puisi yang tumbuh dari sunyi pesantren, dan cerpen-cerpen yang diam-diam membawa luka sosial masyarakat kita.

Ya, Kiai, para santri itu tidak hanya berbicara tentang fikih, kitab kuning, atau soal halal-haram sebagaimana banyak orang bayangkan. Mereka juga berbicara tentang kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, nasib petani, pendidikan yang mahal, demokrasi yang gaduh, hingga keresahan generasi muda yang hidup di tengah dunia digital yang bergerak terlalu cepat.
Mereka berbicara tentang Indonesia—negeri yang panjenengan perjuangkan dengan tubuh letih, dengan perjalanan panjang, dengan rapat-rapat kecil penuh kegelisahan, dan dengan doa-doa yang mungkin tidak pernah dicatat sejarah.
Kiai, di tengah dunia yang hari ini dipenuhi konten pendek, keributan algoritma, dan manusia-manusia yang lebih sibuk mengejar viral daripada makna, beberapa santri itu diam-diam masih ingin menulis, masih ingin membaca, masih ingin berpikir, dan masih ingin menjaga akal sehatnya sendiri; dan saya kira, di zaman ketika banyak orang lebih mudah terseret arus daripada menjaga kedalaman batin, keinginan sederhana seperti itu bukan lagi perkara kecil.
