Pernyataan Ferry Irwandi bahwa filsafat hanya sebatas “kecantikan berpikir” tanpa nilai guna praktis mencerminkan miskonsepsi serius terhadap ilmu humaniora. Ia menyebut Karl Marx sebagai contoh filsuf yang pemikirannya sudah “usang” dan tidak lagi bisa dipakai di dunia modern. Padahal, survei yang dilakukan oleh BBC tahun 2005 menunjukkan bahwa Karl Marx dinobatkan sebagai filsuf paling berpengaruh sepanjang masa, mengalahkan Aristoteles, Hume, dan Kant (BBC Poll, 2005). Ini menunjukkan bahwa nilai filsafat tidak bisa dilihat hanya dari sudut ekonomi, melainkan dari daya jangkau gagasannya dalam memahami dan merespons krisis sosial.
Kritik terhadap Ferry Irwandi bukan sekadar soal perbedaan pandangan, tetapi menyangkut pentingnya akurasi dalam berbicara di ruang publik. Seperti dikatakan oleh akademisi Musfi Romdoni, alumnus filsafat Universitas Indonesia, “Menghapus jurusan filsafat dengan dalih sudah tidak relevan adalah bentuk logical fallacy dan menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi yang lebih luas dari sekadar lapangan kerja.” (Kupasmerdeka.com, 2025)

Filsafat: Tidak Praktis, Tapi Penting
Saya menyadari bahwa filsafat memang tidak menawarkan jalan instan menuju industri. Tapi bukan berarti ia tidak penting. Filsafat melatih kita untuk berpikir mendalam, menghindari bias logika, serta menggugat kemapanan. Dalam masyarakat yang semakin dikendalikan oleh algoritma, kapital, dan disinformasi, filsafat hadir sebagai perisai moral dan epistemologis.
Kita membutuhkan filsafat bukan karena ia menghasilkan uang, tetapi karena ia menjaga warisan berpikir kritis. Kehilangan filsafat dari dunia pendidikan sama artinya dengan kehilangan daya reflektif dan kompas moral dalam berkehidupan. Oleh karena itu, mempertahankan filsafat bukanlah romantisme akademik, tetapi kebutuhan mendesak agar kita tidak terseret menjadi bangsa pekerja tanpa jiwa.
