Selama tidak muncul dua PBNU—misalnya PBNU Sultan vis a vis PBNU Kramat—maka semuanya masih aman terkendali. Yang satu keras suara, yang satunya lebih sabar. Biasa saja. Yang satu pakai jalur tabayun-islah, yang satu jalur rapat pleno bersama. Wajar juga. Konflik adalah tanda organisasi ini hidup, tumbuh, dan berkembang.
Antara Konflik dengan Perpecahan

Ini poin penting. Banyak jamaah menganggap setiap perbedaan adalah perpecahan. Padahal bedanya jauh.
Konflik bisa menyehatkan. Ada panas, ada debat, ada tidak saling sapa, dan ada saling berstatemen. Tapi semuanya tetap dalam rumah besar NU. Kayak keluarga kandung yang kadang ribut soal warisan tapi tetap makan bareng pas Lebaran.
Beda kalau sampai terjadi perpecahan. Kalau sudah bikin NU tandingan. Misalnya NU versi A dan NU versi B, maka potensi kiamat sughra di tubuh NU akan terjadi. Dulu ada Gus Dur dengan Abu Hasan, tapi Allah tetap menjaga NU hanya satu sampai sekarang. Dan sampai saat ini —alhamdulillah— belum sampai terjadi, dan semoga tidak terjadi.
Bahkan kiai yang paling keras pun tahu batas. Mereka boleh jadi panas di dunia, tapi seperti kisah Alm. Gus Dur yang berbeda pandangan dengan Alm. KHR. As’ad Syamsul Arifin, sekarang -keyakinan saya- beliau berdua sama-sama bahagia di alam barzah. Sama-sama jadi Pahlawan Nasional. Dan sama-sama memiliki dampak yang signifikan bagi agama, nusa, dan bangsa. Keyakinan para santri, beliau para kiai yang pernah berkonflik sekarang saling gandengan tangan bersama Rasulullah SAW.
Kenapa Jamaah Panik?
Jawabannya sederhana: karena mungkin belum dewasa menyikapi konflik.
Banyak jamaah NU yang kaget dengan peristiwa ini. Umat tidak siap dengan konflik terbuka. Apalagi zaman medsos yang betapa mudahnya komentar netizen menyerang sana-sini. Apalagi bagi yang tidak suka NU, seakan ada momentum untuk menyerang dengan girang. “See? NU itu duniawi, rebutan jabatan, penuh konflik politik!”
Padahal kalau dicermati, para profesor matematika saja bisa beda jawab soal satu rumus. Apalagi para kiai yang ilmunya luas, kapasitasnya besar, logika sosialnya kompleks.
Masyarakat sudah punya ekspektasi bahwa para kiai menjadi simbol stabilitas emosional mereka. Padahal kiai itu manusia—dengan tugas berat, tekanan besar, dan tanggung jawab kemasyarakatan yang tidak ringan.
Tapi kadang lupa, bahwa mereka bukan robot spiritual. Mereka manusia biasa seperti kita semuanya.
