JALAN KETAKZIMAN

JALAN KETAKZIMAN*
(Untuk KH Said Abdullah Bin Husein)

Seketika lunglai jiwaku
Kabar kepergiamu menerpa waktu begitu pedih.
di antara gemuruh tangis yang panjang
Cintamu terurai begitu nyata.
Di antara tangan-tangan yang gemetar
Sayup-sayup kudengar jeritan luka
Bahkan dalam diam paling puisi
Doa-doa semakin mengalir dalam ingatan yang basah

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentangmu, duhai Kiaiku
Adalah ingatan yang tak pernah usai
Meski terkadang aku lalai menjabarkan cintamu.
Maka seperti yang telah kumengerti
Jejakmu adalah mihrab dalam setiap langkahku
Dan dari rentetan tahun berlalu
Pada air mata dan rasa sakitmu
Telah kubaca ribuan kisah ketulusan.

Tentangmu, duhai Kiaiku
Adalah Jalan ketakziman yang tak usai kutempuh
Karena itu, laut alpa jiwaku masilah rawan untuk benar-benar kau tinggalkan.
Air segar yang mengalir dari telaga jiwamu
Bukan hanya isyarat ketaatan
Tetapi juga tempatku mandi mencuci lumut dan bau busuk dari kebelingsatan zaman.

Remuk perih jiwa ini
Bertahun-tahun kauanyam jiwaku menjadi kemilau batu
Bertahun-tahun pula kau menanggung kealpaanku
Meski kautahu, bahwa di halaman usiaku hardik begitu mengerikan.
Maka terus terang saja
demi kekhusukan cintamu yang masih menyisakan pujian waktu
Biarkan aku berteduh di kelembutan jejakmu.

Busfa, 12 juni 2026.

TENTANGMU

Duhai, Kiaiku
Doamu sungai-sungai
Aku ikan di bening airmu
Ilmumu samudera
Aku sungai bermuara ke tepianmu
Ketulusanmu pohon-pohon
Aku teduh di naunganmu
Cintamu rintik hujan
Aku basah olehmu

Duhai, Kiaiku
Engkau puisi
Aku makna dalam setiap baitmu

Busfa, 12 Juni 2026.

ANGIN DOA

Di kekukuhan cintamu
Aku telah bersemayam
Membaca dunia, membaca diri
Semata-mata untuk menghirup
Wangi jiwamu yang semerbak
Dan engkau selalu berkenan memelukku
Dengan kelembutan napasmu

Angin doa yang berkesiur dari telukmu
Selalu sampai kepadaku
Langitku cerah, malamku terang menderang
Dan jiwaku tegak menyebut namamu
Aku tak pernah merisaukan hujan dan gelombang
Sebab aku dilahirkan dari rasa sakit dan
tabahmu yang tak pernah mau ditekuk waktu.

Apa rahasia jimatmu?
Burung-burung dari danau seberang
Terkesima kepadamu.

Busfa, 13 Juni 2026.

*Puisi untuk Guruku, KH Said Abdullah Bin Husein, pengasuh PP Mathali’ul Anwar Pangarang, Sumenep.

Sumber ilustrasi: vecteezy.

Tinggalkan Balasan