Kaligrafi Patah Hati

Gadis berjilbab hijau itu menatapku sekilas sebelum kemudian duduk bersama seorang temannya di pojok ruangan. Ini adalah kali kedua aku melihatnya datang ke kafe tempatku bekerja. Darjad, yang sedang nge-game online, mengajakku memperhatikan gadis itu, dan aku pura-pura mengabaikannya dengan menyibukkan diri meracik kopi untuk seorang lelaki berbaju rapi yang baru datang. Kata Darjad, gadis itu salah satu bunga yang sedang mekar-mekarnya di kampus tempat dia kuliah.

“Sebagai pengamat kaum hawa, aku sangat paham tentang seluk beluk dirinya,” ucapannya yang memancing perhatianku itu tak kutanggapi. Entah dari mana dia tahu tentang gadis itu. Aku terus sibuk meladeni pelanggan. Ini memang sift kerjaku menggantikannya yang sift pagi. Sesuai jam kerja, seharusnya Darjad kini telah pulang. Tapi dasar mahasiswa pengangguran, dia tak juga mau hengkang dari kafe walau pekerjaan telah usai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mau ngopi gratis di mana lagi selain di sini?” katanya kemarin.

“Gadis secantik dan secemerlang dia, ternyata dulu sempat mengenyam dunia pesantren lho Jib. Cocok untuk daftar nama dalam untaian doa-doamu, Jib-Mujib,” Darjad berseloroh lagi.

Kujawab ucapannya dengan derai tawa. Dan batinku sebenarnya berkata-kata. “Aku lebih paham tentangnya daripada kamu, Jad.”

“Katanya kaligrafimu bagus, Jib.”

Tiba-tiba Darjad mengalihkan topik pembicaraan. Sambil meracik kopi sesekali aku mencuri pandang ke arah gadis itu.

“Bos lagi pingin buat suasana religi di kafe ini. Aku ajukan namamu yang buat kaligrafi ya. Siapa tahu nasibmu berubah jika bakat terpendammu itu sudah diketahui orang banyak.”

Aku mengelak ucapan Darjad yang menuduhku sebagai anak pesantren yang ahli kaligrafi. Kukatan itu dengan sungguh-sungguh bahwa kemampuanku memang hanya abal-abal. Pujian itu tak pantas buatku.

“Postingan kaligrafimu di IG dapat like banyak Jib, komen-komennya juga positif. Percaya padaku, dan jangan terlalu merendahkan diri sendiri seperti itu, entar jadi orang rendahan beneran, kapok kamu, Jib.”

“Terserah kamu, Jad,” tukasku pelan.

Memang benar ucapan Darjad. Beberapa hari kemudian bosku meminta aku untuk menghias ruangan kafe dengan kaligrafi. Sudah kusampaikan padanya bahwa kemampun kaligrafiku tidak terlalu bagus, apalagi semakin jarang kuasah semenjak menjadi mahasiswa tiga tahunan ini. Tapi dia telanjur percaya pada omongan Darjad. Akhirnya aku menyanggupi untuk mengukir kaligrafi itu, hobi yang lama tak lagi kugeluti itu mulai kusentuh lagi.

Hari Kamis sepulang kuliah aku datang ke kafe guna menindaklanjuti permintaan pemilik kafe untuk membuat kaligrafi. Setelah memilah dan memilih perbendaharaan kata, akhirnya aku menukil salah satu maqolah dalam kitab al-Hikam karya Syaikh Ibnu Athoillah As-Sakandary.
ماَ اَحْبَبْتَ شَئًا اِلاَّ كُنْتَ لَهُ عَبْدًا
You are the slave of the one you love.

Maqolah ini kudengar dari pengajian kitab Hikam yang diasuh oleh Gus Somad beberapa hari lalu. Ungkapan indah yang begitu membekas dalam ruang ingatanku itu kuukir di tembok sisi kanan ruang bartender. Tanganku terus bekerja di tengah pengunjung yang mulai ramai. Kucoba menebalkan muka karena merasa menjadi pusat perhatian para pengunjung.

“Ehmm!” tiba-tiba terdengar suara deheman dari arah belakang. Kutahan untuk tidak terganggu dengan suara itu. Namun, ketika suara seorang perempuan menghampiri telingaku, konsentrasiku serta merta buyar.

“Bagus, Mas, kaligrafinya,” celetuk gadis yang kemarin berjilbab hijau itu. Dan dadaku seketika itu berdesir tak karuan. Aku hanya menjawab dengan sehelai senyum.

“Kok cuma bahasa Arab dan bahasa Inggris, Mas? Mana bahasa Indonesianya?”

“Pengunjungnya kan rata-rata mahasiswa, pasti mudah dipahami oleh mereka,” tukasku.

“Kalau bahasa Arab?” lanjutnya.

“Banyak pula yang datang ke sini adalah para santri. Seperti sampean ini, misalnya,” balasku sambil menorehkan tinta.

“Sok tahu, Mas.”

“Siapa yang tidak tahu sosok Ning Bibah?”

Dia terperanjat menyadari aku telah mengenalnya. Akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Dulu saat SMA kami berada di satu Yayasan Pesantren Kahfi. Aku mengenalnya karena dia sosok yang terkenal. Seorang putri kiai berpengaruh dan berwajah cantik serta memiliki banyak prestasi.

Tinggalkan Balasan